Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy baru saja meneken pakta pertahanan baru yang vital dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London. Kesepakatan ini bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan global, khususnya dalam menghadapi proliferasi perangkat keras militer berteknologi tinggi dan berbiaya rendah. Inggris akan menggabungkan basis industri mereka untuk memproduksi drone dan kapabilitas inovatif, sementara Ukraina menyumbangkan keahliannya dalam membangun pencegat drone canggih yang telah teruji di medan perang.
Pertemuan penting ini berlangsung di tengah kekhawatiran global bahwa perang yang sedang berlangsung antara AS-Israel dengan Iran di Timur Tengah bisa mengalihkan perhatian dan sumber daya internasional dari konflik Ukraina. PM Starmer menegaskan, "Fokus harus tetap pada Ukraina," meskipun ada gejolak di Timur Tengah yang bahkan membuat AS sempat mengurangi sanksi terhadap Rusia demi menstabilkan harga minyak. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga dijadwalkan bergabung untuk membahas upaya perdamaian dan menjaga tekanan sanksi terhadap Rusia.
Di sisi lain, Turki kembali menunjukkan peran aktifnya dalam upaya perdamaian. Menteri Luar Negeri Hakan Fidan telah menghubungi Menlu Rusia Sergey Lavrov, menegaskan kembali kesediaan negaranya untuk menjadi tuan rumah putaran negosiasi berikutnya antara Moskow dan Kyiv. Tawaran Turki ini muncul setelah pembicaraan yang dimediasi AS antara delegasi Rusia dan Ukraina kehilangan momentum signifikan, terpecah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Analisis dari para ahli menunjukkan, pertempuran di Timur Tengah ini bisa menjadi "kerugian terbesar" bagi Ukraina. Selain mengalihkan perhatian diplomatik, konflik tersebut juga menguras persediaan rudal pertahanan udara AS, yang sangat krusial bagi Kyiv untuk menangkis serangan rudal Rusia. Ukraina kini berharap bisa memanfaatkan keahlian mereka dalam intersepsi drone untuk mendapatkan sistem pertahanan yang mahal dan sangat dibutuhkan.