Petani kubis di Filipina kini tengah menghadapi masa sulit. Mereka merugi besar saat panen, sebab harga jual kubis anjlok drastis, sementara biaya operasional, terutama bahan bakar, justru melonjak tajam. Situasi ini dipicu oleh krisis energi nasional yang melanda Filipina, yang secara langsung dikaitkan dengan dampak konflik antara AS dan Israel di Iran.
Kerugian ini bukan hanya beban berat bagi para petani, tapi juga berpotensi mengganggu pasokan sayuran dan menaikkan harga di pasar lokal. Jika dibiarkan, ini bisa berdampak pada ketahanan pangan dan daya beli masyarakat. Kondisi ini juga menunjukkan bagaimana gejolak geopolitik di satu wilayah, seperti Timur Tengah, bisa memiliki efek domino yang luas, menjalar hingga ke sektor pertanian di belahan dunia lain. Pemerintah Filipina kini dituntut untuk segera mencari solusi stabilisasi harga dan dukungan bagi sektor vital seperti pertanian.