Tehran, Iran – Dunia menarik napas lega setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada Minggu lalu. Namun, di jalanan Tehran, warga justru diliputi skeptisisme. Mereka menganggap perjanjian ini hanya solusi sementara yang tak akan membawa stabilitas jangka panjang.
Kesepakatan yang akan ditandatangani pada Jumat ini berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Langkah ini diharapkan bisa menenangkan pasar energi global yang sempat gonjang-ganjing sejak perang pecah pada 28 Februari. Sebagai imbalan, AS akan mencabut blokade laut di pelabuhan selatan Iran yang selama ini mencekik ekonomi negeri para Mullah.
Namun, isu-isu krusial seperti program nuklir Iran, sanksi AS, dan aset beku Teheran senilai miliaran dolar sengaja ditunda. Hal ini memicu pesimisme. "Kesepakatan ini tidak memberi manfaat besar bagi rakyat. Kedua pihak pasti akan mengkhianatinya demi kepentingan sendiri," ujar Parisa, mahasiswa di Tehran, yang enggan disebut nama lengkapnya.
Analis menilai gencatan senjata ini rapuh. Selain masih adanya baku tembak beberapa waktu lalu, Israel juga menentang keras perjanjian ini. Bahkan, serangan Israel ke pinggiran Beirut pada Minggu lalu nyaris menggagalkan negosiasi. Di dalam negeri Iran, kelompok garis keras juga siap mencabik-cabik setiap konsesi yang dianggap merugikan.
Uniknya, Iran sengaja menunda pengumuman hingga Senin dini hari waktu setempat. Langkah ini dilakukan agar pengumuman tersebut tidak jatuh bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden AS Donald Trump pada Minggu. Sebuah sinyal bahwa tensi tinggi masih menyelimuti hubungan kedua negara.