Brasil kembali berduka. Hujan lebat yang memecahkan rekor di negara bagian Minas Gerais, Brasil tenggara, memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor mematikan. Hingga kini, sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas dan 39 lainnya masih dinyatakan hilang.
Tim penyelamat, terdiri dari petugas pemadam kebakaran dan anjing pelacak, terus berjibaku mencari korban yang tertimbun puing-puing dan lumpur. Sebanyak 12 rumah di kawasan perbukitan Juiz de Fora, salah satu kota terdampak parah, hancur tersapu tanah longsor besar.
Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras semalaman, yang membuat sungai meluap dan mengubah jalanan menjadi arus deras air berlumpur. Wali Kota Juiz de Fora, Margarida Salomao, menyebut Februari tahun ini menjadi bulan terbasah dalam sejarah kota mereka, dengan akumulasi curah hujan mencapai 584 milimeter.
Akibatnya, lebih dari 200 warga berhasil diselamatkan dari kepungan banjir, namun sekitar 3.000 orang terpaksa mengungsi. Sejumlah lingkungan pun terisolasi karena setidaknya 20 titik tanah longsor memutus akses. Salomao menggambarkan situasi ini sebagai "ekstrem" dan pemerintah daerah telah meliburkan seluruh sekolah di kota terdampak.
Menanggapi tragedi ini, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menyampaikan keprihatinannya. Ia menegaskan fokus utama pemerintah adalah memastikan bantuan kemanusiaan, memulihkan layanan dasar, membantu para pengungsi, serta mendukung upaya rekonstruksi.
Bukan kali ini saja Brasil dihantam bencana cuaca ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini berulang kali menghadapi serangkaian tragedi mulai dari banjir, kekeringan, hingga gelombang panas hebat. Contohnya, pada tahun 2024, lebih dari 200 orang meninggal akibat banjir di Brasil selatan, menjadikannya salah satu bencana alam terburuk. Dua tahun sebelumnya, 241 jiwa melayang dalam banjir bandang di Petropolis, dekat Rio de Janeiro. Para ahli sepakat, fenomena ekstrem yang makin sering terjadi ini adalah imbas nyata dari perubahan iklim global.