Pengecer raksasa Walmart baru saja mencetak sejarah dengan menembus valuasi pasar 1 triliun dolar AS, bergabung dengan elit perusahaan teknologi global. Lonjakan saham ini dipicu oleh dua kabar penting: pengangkatan CEO baru dan prospek kesepakatan dagang besar dengan India, negara yang kini menjadi tulang punggung rantai pasok strategis perusahaan.
Saham Walmart terbang tinggi pada perdagangan Selasa pagi, melanjutkan reli positif setelah pengumuman penting tentang kepemimpinan baru dan, yang tak kalah krusial, negosiasi dagang dengan India. Negara Asia Selatan ini bukan sekadar pasar, melainkan pusat rantai pasok utama bagi Walmart yang berbasis di Arkansas, Amerika Serikat.
Kenaikan harga saham sebesar 2,1 persen ini membawa Walmart ke klub elit 'triliun dolar', sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya dipegang oleh raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, Alphabet, dan Microsoft. Di sektor ritel, Amazon adalah satu-satunya yang lebih dulu mencapainya dengan valuasi 2,6 triliun dolar AS.
Pemicu terbesar datang dari pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Senin lalu mengenai kesepakatan dagang dengan India. Kesepakatan ini berpotensi memangkas tarif impor secara signifikan, dari 50 persen menjadi 18 persen. Sebuah angin segar bagi Walmart, yang sejak 2018 telah secara strategis menggeser sebagian besar operasional rantai pasoknya dari Tiongkok ke India. Data menunjukkan, kontribusi ekspor India untuk Walmart melonjak dari 2 persen di 2018 menjadi 25 persen di 2023, dengan target 10 miliar dolar AS pada tahun depan.
Meski detail kesepakatan masih 'dirapikan' oleh Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, pasar merespons positif. Ekonom Rachel Ziemba dari Ziemba Insights, seperti dikutip Al Jazeera, menyebut bahwa pasar cenderung melihat ke depan dan mengantisipasi penurunan tarif. Respons ini menguatkan pandangan bahwa hambatan tarif incremental akan berkurang tahun ini.
Bagi India, kesepakatan ini adalah berkah. Federasi Organisasi Eksportir India (FIEO) yakin pemotongan tarif AS akan mendongkrak ekspor India, terutama produk tekstil dan garmen, menempatkan mereka sejajar dengan pesaing Asia lainnya seperti Vietnam dan Bangladesh. Produk-produk inilah yang selama ini menghadapi tarif tertinggi.
Dampak lebih luasnya, pergeseran rantai pasok Walmart dari Tiongkok ke India menunjukkan tren diversifikasi global yang makin kuat, di mana perusahaan besar berupaya mengurangi ketergantungan pada satu negara. Bagi konsumen AS, potensi penurunan tarif bisa berarti harga barang yang lebih kompetitif. Sementara itu, ekonomi India akan mendapatkan dorongan signifikan dari peningkatan ekspor dan investasi.