PARIS - Laga akbar Liga Champions antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Barcelona tetap digelar di Parc des Princes, Selasa malam waktu setempat, meski Prancis tengah dilanda gelombang demonstrasi mahasiswa yang meluas. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez memastikan pertandingan berjalan sesuai rencana dengan pengamanan rutin dan kehadiran polisi yang terbilang minim di sekitar stadion.
Di luar stadion, suasana suporter tampak normal. Antrean pembelian syal dan kerumunan penggemar yang menikmati minuman mewarnai jalanan menjelang kick-off pukul 21.00 waktu setempat. Seorang insinyur berusia 25 tahun, Paul, mengaku lega laga tidak dibatalkan. "Bagaimana mungkin kami melewatkan pertandingan sebesar ini?" ujarnya.
Namun di luar konteks sepak bola, situasi nasional memanas. Gerakan mahasiswa yang menuntut kelas lebih kecil, penambahan guru, dan pemerataan sistem pendidikan telah berkembang menjadi aksi massa lebih dari setengah juta orang di seluruh negeri. Bentrokan akhir pekan lalu berujung ricuh, dengan kelompok hak asasi manusia menuding polisi bertindak berlebihan. Seorang remaja 14 tahun bernama Eden mengalami rahang patah akibat granat gas air mata, sementara Mael (16) kehilangan penglihatan mata kanan setelah terkena peluru karet. Otoritas membela diri dengan menyebut ratusan aparat terluka, dan badan pengawas kepolisian IGPN telah membuka 34 penyelidikan dugaan kekerasan aparat.
Isu politik juga merembes ke tribun. Kelompok ultras PSG, Collectif Ultras Paris, sempat membentangkan spanduk dukungan kepada demonstran pada laga melawan Le Mans 10 Oktober lalu, bertuliskan "Milisi Anda menindas, pemuda kami melawan." Badan etik Federasi Sepak Bola Prancis meminta pesan politik dijauhkan dari stadion, dan spanduk itu pun diturunkan. Sebagian besar penonton di tribun Auteuil sempat walk-out sebelum jeda.
Pendapat suporter terbelah. Frederique (52), pegawai bank, menilai ekspresi politik suporter sah-sah saja. Sebaliknya, Adrien Ridon (34), pekerja konstruksi, menegaskan sepak bola dan politik adalah dua hal berbeda. "Sangat menyedihkan jika kami tidak bisa datang menyaksikan laga melawan Barca," katanya.
Analisis: Keputusan menggelar laga di tengah gejolak menunjukkan upaya pemerintah mempertahankan stabilitas citra internasional, namun risiko eskalasi politik di stadion tetap tinggi. Bagi masyarakat, momen ini menjadi cermin ketegangan antara hak berekspresi dan netralitas olahraga, sekaligus ujian transparansi aparat dalam menangani protes.