President Volodymyr Zelenskyy sudah tak bisa menahan diri. Ia memerintahkan jajaran militer Ukraina untuk mengambil tindakan tegas menyusul rentetan serangan Rusia yang secara sengaja menargetkan infrastruktur kereta api dan jalur logistik vital.
Eskalasi serangan ini bukan isapan jempol. Rusia telah meningkatkan bombardirnya, termasuk insiden mengerikan pekan lalu di Kharkiv yang menewaskan lima orang di dalam gerbong kereta. Tak hanya itu, sektor sipil juga jadi sasaran, seperti serangan udara Minggu lalu yang menewaskan 12 penambang di dalam sebuah bus di wilayah Sumy. Zelenskyy menegaskan, fokus utama Rusia adalah teror terhadap logistik dan infrastruktur kereta api, dengan serangan terbaru di wilayah Dnipro dan Zaporizhzhia yang secara spesifik menyasar fasilitas rel.
Meski terus dihantam, jaringan kereta api Ukraina sejauh ini masih beroperasi, sebuah pencapaian luar biasa di tengah hampir empat tahun perang. Namun, operator kereta api negara, Ukrzaliznytsia, memperingatkan bahwa beberapa rute di timur Ukraina kini berisiko tinggi dan menyarankan penumpang beralih ke bus. Mereka juga siaga memantau ancaman drone Rusia, siap menghentikan kereta di dekat tempat penampungan bom jika diperlukan. Lebih jauh, gempuran rudal dan drone Rusia tak hanya melumpuhkan transportasi, tapi juga merusak jaringan listrik Ukraina, membuat warga kedinginan, gelap gulita, dan kesulitan air bersih di tengah musim dingin yang menusuk.
Di sisi lain, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus bergulir, meski penuh liku. Pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan kembali pekan ini di Abu Dhabi setelah sempat tertunda. Namun, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut negosiasi ini "sangat kompleks." Poin krusial yang menjadi batu sandungan utama adalah status wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Moskow ingin mempertahankan dan bahkan mengklaim wilayah lain, sementara Kyiv dengan tegas menolak menyerahkan sejengkal pun tanahnya. Ukraina khawatir, menyerah hanya akan membuat Rusia semakin berani dan tidak akan menjamin perdamaian jangka panjang. Ini menjadi ganjalan besar jelang peringatan empat tahun invasi Rusia bulan ini, menunjukkan betapa jauhnya kedua belah pihak dari titik temu.