Keluarga Agnes Wanjiru, seorang ibu muda asal Kenya yang mayatnya ditemukan di septic tank pada 2012, menyuarakan kemarahan mereka. Pasalnya, sidang ekstradisi tersangka, Robert James Purkiss, seorang mantan tentara Inggris, baru akan digelar pada Mei 2027. Penundaan ini dinilai keluarga sebagai bentuk ketidakadilan yang keterlaluan.
Esther Njoki, keponakan korban, mengungkapkan kekecewaannya kepada BBC. Keluarga mengaku tidak mendapat penjelasan resmi dari otoritas terkait alasan penundaan tersebut. Padahal, mereka sudah menyiapkan dana dan rencana perjalanan ke Inggris untuk menghadiri sidang yang awalnya dijadwalkan bulan depan.
"Kami sudah bersabar dan menanggung ketidakpastian selama bertahun-tahun, tapi kesabaran kami sekarang dimanfaatkan," ujar Esther dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa Agnes berhak mendapatkan keadilan, dan putrinya, Stacy, berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kasus ini bermula saat Agnes menghilang pada Maret 2012 setelah menghabiskan malam di sebuah hotel di Nanyuki, lokasi tentara Inggris bertugas. Tubuhnya ditemukan tiga bulan kemudian dengan luka tusuk di dada dan perut. Sebuah inkuisisi di Kenya pada 2019 menyimpulkan bahwa ia dibunuh secara tidak sah oleh satu atau dua tentara Inggris.
Purkiss (38) ditangkap di Inggris pada November lalu dan saat ini sedang berjuang melawan ekstradisi. Ia membantah tuduhan pembunuhan tersebut. Keluarga mendesak otoritas untuk mempercepat proses hukum, mengingat kasus ini akan memasuki tahun ke-15 tanpa persidangan jika penundaan terus terjadi. Pengadilan Inggris dijadwalkan memberikan alasan penundaan pekan depan.