Di tengah memanasnya situasi Timur Tengah akibat perang berkepanjangan antara AS dan Israel melawan Iran, empat negaraāQatar, Turkiye, Pakistan, dan Indonesiaāmengambil langkah strategis. Pada Rabu lalu, keempat negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Doha untuk memperdalam kerja sama industri pertahanan.
Kesepakatan ini bukan sekadar jual-beli senjata, melainkan upaya membangun kemandirian pertahanan. Kerja sama ini mencakup produksi bersama, transfer teknologi, hingga integrasi rantai pasok yang lebih erat. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap kegagalan AS dan Iran mencapai perdamaian, yang membuat negara-negara kawasan mulai mendiversifikasi mitra keamanan mereka agar tidak terlalu bergantung pada Washington.
Analis industri pertahanan, Arda Mevlutoglu, menyebut fenomena ini sebagai munculnya jaringan pertahanan yang saling terhubung dari Teluk hingga Asia Selatan dan Tenggara. Dalam pakta bernama 'Badr' ini, masing-masing negara punya peran spesifik: Turkiye menyumbang keahlian teknologi dan integrasi sistem; Pakistan dan Indonesia menawarkan kapasitas manufaktur serta pasar domestik besar; sementara Qatar menyediakan suntikan investasi.
Dampaknya bagi masyarakat, kerja sama ini berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor manufaktur pertahanan di Indonesia dan Pakistan, serta menekan biaya produksi alutsista. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa langkah ini tidak berarti negara-negara tersebut meninggalkan sekutu lama mereka, melainkan upaya mendapatkan kontrol lebih besar atas keamanan nasional masing-masing.