Gelombang demonstrasi yang digerakkan anak muda kembali melanda Eropa. Jerman dan Prancis kini bersiap menghadapi potensi kerusuhan pada akhir pekan yang bertepatan dengan perayaan Halloween.
Di Jerman, sekitar 150.000 orang telah mendaftar untuk turun ke jalan di 30 kota besar seperti Berlin, Frankfurt, dan Cologne. Aksi ini dipimpin kelompok bernama 'GenZ regelt!' yang menyuarakan kekecewaan terhadap mahalnya biaya hidup, buruknya fasilitas sekolah, pemangkasan anggaran, hingga kebijakan politisi yang dinilai mengabaikan masa depan generasi muda. Polisi setempat berencana mengerahkan ribuan personel tambahan, sementara sejumlah toko perhiasan mewah dan butik mulai menutup jendela dengan papan kayu untuk mengantisipasi penjarahan.
Situasi serupa terjadi di Prancis. Pemerintah mengerahkan 70.000 polisi di seluruh negeri dan menutup lebih dari 40 stasiun metro di Paris. Menteri Dalam Negeri Prancis memperingatkan risiko 'sangat tinggi' terjadinya kekacauan. Aturan baru juga melarang penggunaan masker penutup wajah saat demonstrasi. Presiden Kamar Dagang Prancis, Alain Di Crescenzo, mengaku pengusaha sangat cemas. 'Pemilik toko tidak sabar menunggu Sabtu berakhir,' ujarnya, khawatir karena perayaan Halloween membuat banyak orang memakai masker sehingga menyulitkan identifikasi.
Analisis Dampak: Protes ini menunjukkan akumulasi frustrasi generasi muda Eropa terhadap ketidakpastian ekonomi. Bagi masyarakat umum, aksi ini berpotensi mengganggu mobilitas dan aktivitas ekonomi, terutama di pusat kota. Sementara itu, pembatasan masker dan penutupan transportasi publik menimbulkan dilema antara keamanan dan kebebasan sipil.