Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis yang berlangsung sejak akhir September lalu semakin memanas. Aksi protes yang menolak kekurangan dana di sektor pendidikan ini tidak lagi sekadar unjuk rasa damai, melainkan sudah berubah menjadi kerusuhan di berbagai wilayah. Dampaknya pun cukup besar: ratusan orang dilaporkan terluka, mulai dari pelajar, guru, hingga aparat kepolisian.
Pemicu utama kemarahan para pelajar adalah kondisi sekolah menengah atas (lycée) yang dinilai memprihatinkan. Mereka mengeluhkan fasilitas gedung yang rusak dan kekurangan tenaga pengajar. Salah satu pelajar di Paris, Madalena, mengungkapkan bahwa gurunya sering absen hingga berpekan-pekan tanpa ada guru pengganti. Belum lagi masalah suhu ruangan yang disebut sangat panas saat gelombang panas melanda.
Selain itu, ada pula keluhan soal jam sekolah yang terlalu panjang hingga pukul 18.00, serta sistem seleksi masuk universitas bernama Parcoursup yang dianggap tidak transparan. Sistem ini dinilai membuat persaingan masuk jurusan favorit jadi kacau dan penuh tekanan.
Meski keluhan ini nyata, data dari OECD menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah Prancis per siswa SMA sebenarnya lebih tinggi dari rata-rata Uni Eropa. Kekurangan guru juga terjadi di negara lain, bahkan di Prancis tergolong lebih ringan. Situasi ini memicu pertanyaan besar: mengapa protes kali ini jauh lebih brutal dibandingkan aksi serupa di masa lalu? Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan sekitar 500 orang ditangkap dalam aksi Selasa lalu.