Israel mengklaim telah menewaskan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dan Gholamreza Soleimani, komandan milisi internal Basij. Klaim ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Selasa. Larijani sendiri adalah figur politik yang sangat berpengaruh, pernah memimpin negosiasi nuklir Iran dengan Barat dan menjabat sebagai Ketua Parlemen.
Meskipun Israel bersuara lantang, Iran hingga kini belum memberikan tanggapan resmi, baik membantah maupun membenarkan klaim tersebut. Media pemerintah Iran sempat merilis tulisan tangan Larijani pada Selasa yang mengenang 84 pelaut Iran yang tewas akibat serangan AS, namun tujuan publikasi ini sebagai bukti Larijani masih hidup belum jelas. Larijani terakhir terlihat di publik pada Jumat lalu, menghadiri unjuk rasa Hari Al-Quds di Teheran bersama Presiden Masoud Pezeshkian.
Jika klaim Israel terbukti, kematian Larijani akan menjadi target pejabat tertinggi yang tereliminasi sejak serangan AS-Israel menewaskan mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarganya pada awal perang, 28 Februari lalu. Menhan Katz sendiri mengisyaratkan operasi ini dengan mengatakan, "Para pemimpin rezim dibunuh dan kemampuan mereka dilumpuhkan," serta menegaskan pasukan Israel terus menyerang "kemampuan rudal dan infrastruktur strategis."
Sebelumnya, Larijani dikenal vokal menentang AS dan Israel. Pada Senin lalu, ia menyerukan persatuan negara-negara Muslim untuk melawan apa yang disebutnya "agresi pengkhianat" dan membenarkan serangan Iran di kawasan, yang dianggap oleh beberapa negara Teluk sebagai agresi kedaulatan. Klaim pembunuhan ini, menurut laporan Nida Ibrahim dari Al Jazeera, akan dirayakan sebagai "kesuksesan strategis besar" oleh Israel. Namun, di sisi lain, ini berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas dan berbahaya di Timur Tengah, membuat dunia kini menanti respons resmi dari Teheran.