Jakarta, CNN Indonesia -- Hari raya Idul Adha yang seharusnya penuh damai justur diwarnai rentetan serangan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Setidaknya 33 warga Palestina tewas dan lebih dari 130 lainnya terluka selama empat hari perayaan, dari 27 hingga 30 Mei lalu.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, korban tewas termasuk Ahmad Ali Helles (37), satu-satunya anggota keluarga inti yang selamat, tewas dalam serangan drone di Alun-Alun Shawa, Gaza City. Seorang kepala dokter anestesi di Rumah Sakit Yafa, Dr. Jamal Abu Aoun, juga gugur di dekat Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir el-Balah.
Kekerasan tak hanya terjadi di Gaza. Di Khirbet Masoud dekat Jenin, Tepi Barat, seorang pemukim Israel membakar rumah dan mobil milik warga Palestina. Dinding rumah itu bahkan dicoret dengan tulisan 'Mazel Tov'—ucapan selamat dalam bahasa Ibrani—sebagai ejekan terhadap hari raya umat Islam. Tentara Israel juga menembakkan gas air mata ke arah keluarga yang sedang berziarah ke makam kerabatnya, sebuah tradisi saat Idul Adha.
Di sisi lain, kecaman internasional semakin keras. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres baru saja memasukkan Israel ke dalam daftar hitam tahunan pihak-pihak yang diduga melakukan kekerasan seksual di wilayah konflik. Laporan PBB tahun 2025 mendokumentasikan 31 kasus kekerasan seksual yang melibatkan tentara Israel, petugas penjara, dan polisi khusus, yang menimpa warga Gaza dan Tepi Barat. Sebagai buntutnya, Israel memutuskan hubungan dengan Guterres.
Laporan ini muncul bersamaan dengan skandal Global Sumud Flotilla, di mana pasukan Israel menahan secara paksa aktivis kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Prancis bahkan sudah meminta jaksa untuk menyelidiki perlakuan terhadap warganya yang ditahan. Uni Eropa pun ikut menjatuhkan sanksi kepada empat organisasi pemukim ekstremis Israel, termasuk Nachala dan Regavim.
Analisis: Langkah PBB dan sanksi Uni Eropa ini menjadi tekanan diplomatik yang signifikan bagi Israel. Namun, di lapangan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru memerintahkan militernya untuk memperluas kontrol di Gaza, melanggar gencatan senjata Oktober lalu. Ini menunjukkan kesenjangan antara kecaman global dan realitas di tanah—warga sipil terus menjadi korban di tengah ketiadaan solusi politik yang kuat.