Beograd, Serbia - Perdana Menteri Serbia, Aleksandar Vučić, secara resmi mengakui kekalahannya dalam pemilihan parlemen snap yang digelar Minggu (malam). Kekalahan ini menjadi momen bersejarah setelah gerakan protes yang dipimpin mahasiswa berhasil menggulingkan kekuasaan yang sudah lama bercokol.
Dalam pernyataan persnya di markas Partai Progresif Serbia (SNS) di Beograd, Vučić mengakui bahwa hasil akhir belum sepenuhnya masuk, namun ia sudah bisa memastikan kekalahan koalisinya. "Kami masih belum memiliki hasil final... namun jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilihan ini," ujar Vučić, seperti dikutip dari BBC.
Kemenangan gerakan mahasiswa ini tidak lepas dari tingginya partisipasi pemilih yang tercatat sebagai rekor tertinggi oleh komisi pemilihan. Analis politik menilai lonjakan partisipasi ini menjadi faktor kunci yang menguntungkan pihak oposisi, terutama di kalangan pemilih muda yang selama ini vokal menuntut perubahan.
Pemilihan snap ini sendiri dipicu oleh gelombang protes yang berlangsung selama dua tahun terakhir. Aksi turun ke jalan tersebut dipicu oleh tragedi runtuhnya kanopi Stasiun Kereta Api Novi Sad pada tahun 2024 silam. Insiden yang menewaskan 16 orang itu dianggap publik sebagai bukti nyata korupsi dan kelalaian pemerintah dalam proyek infrastruktur.
Begitu pengumuman kekalahan disampaikan, suasana di jalanan Beograd langsung berubah menjadi pesta rakyat. Warga merayakan dengan membunyikan klakson kendaraan, sementara para mahasiswa terdengar meneriakkan kata "kemenangan" dengan penuh semangat. Perubahan lanskap politik ini diharapkan membawa angin segar bagi transparansi pemerintahan dan penegakan hukum di Serbia ke depannya.