Dunia akhirnya bisa bernapas lega. Setelah berminggu-minggu mencekam, pintu gerbang energi vital dunia, Selat Hormuz, kembali terbuka untuk beberapa kapal. Langkah diplomatik Pakistan berhasil membujuk Iran. Namun, di balik kabar baik ini, tersimpan 'harga' mahal dan ambisi Iran yang mungkin mengejutkan dunia.
Pakistan berhasil mencatat kemajuan diplomatik signifikan di tengah krisis energi dan konflik regional yang memanas. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, pada Sabtu kemarin mengumumkan bahwa Iran menyetujui 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz. Kesepakatan ini memungkinkan dua kapal melintas setiap hari, sebuah langkah yang disebut Dar sebagai âpertanda perdamaianâ dan âgestur konstruktifâ untuk memulihkan stabilitas di kawasan.
Uniknya, pengumuman ini secara langsung menyebut beberapa pejabat AS seperti Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan utusan AS Steve Witkoff, selain Menlu Iran Abbas Araghchi. Ini mengisyaratkan bahwa Islamabad melihat kesepakatan ini lebih dari sekadar urusan bilateral, melainkan bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas untuk meredakan konflik regional yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Perang tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, ribuan warga Iran dan Lebanon, serta mengguncang pasar global.
Penutupan Selat Hormuz, yang oleh mantan menteri Qatar Mohammed Al-Hashemi disebut sebagai âkatup aorta produksi global,â telah menyebabkan kekacauan parah. Sekitar 2.000 kapal terdampar, harga minyak melonjak 40 persen hingga di atas 100 dolar AS per barel, dan perdagangan global mengalami âgangguan terburuk dalam 80 tahun terakhirâ menurut Kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala. Sejak perang dimulai, hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melintasâjumlah yang biasanya melintas dalam satu hari normalâmenurunkan lalu lintas maritim hingga 90 persen.
Di tengah situasi ini, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengambil alih kendali selat, mengubahnya menjadi semacam âpos pemeriksaan.â Kapal yang ingin melintas harus menyerahkan detail kargo, daftar awak, tujuan, mendapatkan kode izin, dan dikawal melalui perairan Iran. Konsekuensinya, setidaknya dua kapal dilaporkan membayar 2 juta dolar AS per lintasan, yang dibayarkan dalam mata uang yuan Tiongkok. Parlemen Iran kini bahkan berencana melegalkan pungutan ini sebagai sumber pendapatan negara. Malaysia pun telah mengumumkan bahwa kapal-kapal mereka diizinkan melintasi selat tersebut setelah berterima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Pembukaan terbatas Selat Hormuz ini adalah hasil diplomasi intens Pakistan. Panglima Militer Asim Munir sempat berbicara dengan Presiden AS Donald Trump, sementara Menlu Dar juga berdialog dengan mitranya dari Iran dan Turki. Dengan perbatasan sepanjang 900 km dengan Iran, Pakistan memang memegang peran strategis. Jika pihak-pihak yang berkonflik bersedia, Islamabad menyatakan siap menjadi tuan rumah perundingan untuk mencari solusi damai. Namun, pertanyaan besar tetap membayangi: apakah âhargaâ yang ditetapkan Iran untuk jalur vital ini akan menjadi normal baru bagi perdagangan global?