Caracas – Venezuela dan Republik Dominika sepakat memulihkan hubungan diplomatik yang sempat putus. Kesepakatan ini tertuang dalam peta jalan (roadmap) menuju normalisasi bertahap hubungan kedua negara, seperti diumumkan Kementerian Luar Negeri Venezuela, Minggu (16/2).
Putusnya hubungan bermula saat Republik Dominika menolak mengakui kemenangan Nicolas Maduro pada pemilu 2024 yang dianggap penuh kecurangan oleh pengamat dan oposisi. Venezuela merespons dengan memutus hubungan diplomatik.
Kini, kedua negara sepakat memperkuat saluran komunikasi institusional demi kepentingan rakyat. Sebelumnya, pada Februari lalu, kedua negara juga sudah menyepakati pemulihan penerbangan langsung Caracas-Santo Domingo dan layanan konsuler.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintahan interim Venezuela pimpinan Presiden Delcy Rodriguez untuk membangun kembali hubungan dengan negara-negara yang sempat renggang. Ini sejalan dengan upaya realignment terhadap kepentingan AS di kawasan, termasuk membuka akses energi dan sumber daya alam Venezuela untuk investasi AS.
Di sisi lain, Venezuela baru saja mengumumkan keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang dituding bias terhadap negara miskin dan non-Barat. Keputusan ini bertepatan dengan kampanye pemerintahan Trump untuk melemahkan lembaga internasional tersebut.
Analisis: Pemulihan hubungan ini menandai pergeseran geopolitik signifikan di kawasan. Venezuela yang sebelumnya terisolasi, kini bergerak mendekati blok pro-AS. Langkah ini membuka peluang investasi asing di sektor energi dan mineral Venezuela, namun juga memicu kekhawatiran tentang hilangnya kedaulatan sumber daya alam. Bagi Republik Dominika, normalisasi hubungan ini membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor penerbangan dan perdagangan.