Mahasiswa di Nazareth, kota dengan mayoritas penduduk Arab terbesar di Israel, turun ke jalan membagikan selebaran kepada pengendara. Mereka mengajak warga Arab Israel untuk menggunakan hak suaranya pada pemilihan umum minggu depan. Ajakan ini muncul karena survei menunjukkan suara partai Arab bisa menjadi penentu keseimbangan kekuasaan di parlemen.
Selama ini, partisipasi politik warga Arab Israelâyang mencakup sekitar seperlima populasi dan kerap menyebut diri sebagai warga negara Palestina di Israelâsering rendah akibat rasa tidak puas terhadap sistem. Namun, gelombang dorongan kali ini berbeda. Ada semangat kuat untuk menumbangkan koalisi pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel, aliansi antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan partai-partai ultra-Ortodoks dan sayap kanan ekstrem.
Arkan Badran, mahasiswa berusia 23 tahun, menegaskan bahwa menurunkan pemerintahan ekstremis adalah kewajiban. Menurutnya, pemerintah saat ini memperlakukan warga Arab sebagai warga kelas dua. Ia mengajak semua pemuda dan pemudi memilih daftar partai Arab yang mewakili aspirasi mereka karena masa depan ada di tangan sendiri.
Hasil survei menunjukkan baik kubu Netanyahu maupun blok oposisi utama pimpinan Gadi Eisenkot tidak memiliki jalur jelas menuju mayoritas parlemen. Jika prediksi ini akurat, partai anti-Netanyahu yang ingin membentuk pemerintahan harus berkompromi atau berkoalisi dengan partai Arab. Namun, Eisenkot sejauh ini menolak bekerja sama dengan partai Arab karena alasan perbedaan nilai.
Lanskap politik Israel berubah drastis pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza. Ketegangan dan permusuhan terhadap minoritas Arab meningkat. Suha Salman Mousa dari Mossawa Centre menuding para menteri melakukan diskriminasi sistematis dan provokasi terhadap warga Arab Israel. Ia menyoroti menyempitnya ruang kebebasan berbicara, penangkapan massal, dan pemecatan pekerja akibat unggahan media sosial atau sikap menentang perang.
Kelompok masyarakat sipil mencatat pemotongan anggaran yang tidak proporsional untuk komunitas Arab. Pemerintah beralasan pemotongan diperlukan untuk membiayai pertahanan dan keamanan masa perang. Selain itu, muncul kampanye politis terhadap dokter Arab di rumah sakit Israel dan serangan bermotif rasial terhadap pengemudi bus Arab oleh warga Yahudi Israel.
Analisis Dampak: Partisipasi tinggi warga Arab Israel berpotensi mengubah peta politik dan memaksa parlemen mempertimbangkan agenda kesetaraan. Namun, meningkatnya ketegangan sosial pasca 7 Oktober menciptakan dilema: di satu sisi hak suara menjadi alat tawar, di sisi lain polarisasi dan diskriminasi masih menjadi tantangan nyata di lapangan.