Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menggebrak panggung politik dengan gaya khasnya. Bukan sebagai calon, melainkan sebagai 'juru kampanye utama' untuk Partai Republik dalam pemilu sela Kongres AS mendatang. Sumber Gedung Putih menyebut, Trump akan berkampanye agresif, seolah-olah ia sendiri yang menjadi kandidat utama, bahkan dengan rencana reli publik hampir setiap minggu.
Strategi tak biasa ini bertujuan mengamankan mayoritas kursi bagi Partai Republik di kedua kamar Kongres dan secara langsung menantang apa yang dikenal sebagai 'kutukan pemilu sela'. Fenomena historis ini menunjukkan bahwa partai presiden petahana hampir selalu kehilangan kursi di Kongres AS. Sejak Perang Dunia II, 18 dari 20 pemilu sela berakhir dengan kekalahan kursi bagi partai presiden yang sedang menjabat. Trump, dengan mendeklarasikan kampanye ini sebagai pertarungan yang dinasionalisasi, berambisi membalikkan tren tersebut.
Sejak Desember lalu, Trump sudah tancap gas, mengunjungi negara bagian krusial seperti Pennsylvania, North Carolina, Iowa, dan Michigan. Ia dijadwalkan akan menggelar banyak reli publik, menggembar-gemborkan rekam jejak ekonominya di masa lalu. Langkah ini tidak hanya untuk mendukung kandidat Republik, tetapi juga untuk memperkuat cengkeramannya pada basis pendukung dan menjaga relevansinya di panggung politik nasional, yang juga bisa menjadi pemanasan untuk potensi pencalonannya di masa depan.
Namun, jalan yang diambil Trump ini penuh risiko. Pengamat politik, seperti profesor hukum Tory L Lucas, mengingatkan bahwa Partai Demokrat kemungkinan besar akan membingkai pemilu sela ini sebagai referendum nasional terhadap sosok Trump. Jika strategi ini gagal dan Republik kalah telak, hasil tersebut bisa menjadi bumerang yang parah, tidak hanya bagi partai tetapi juga merusak popularitas Trump sendiri dan prospek politiknya di masa depan. Taruhan Trump sangat tinggi: keberhasilannya akan mengukuhkan statusnya sebagai 'kingmaker' Republik, sementara kegagalannya bisa mempercepat erosi pengaruhnya, terutama di tengah fluktuasi angka jajak pendapatnya.