Ribuan warga Irak kembali memadati Tahrir Square, Baghdad, untuk memperingati tujuh tahun gelombang protes 'Tishreen' yang meletus pada 2019 silam. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut tiga hal utama: pemberantasan korupsi yang merajalela, keadilan bagi demonstran yang tewas di tangan aparat keamanan, serta reformasi pemerintahan yang nyata.
Sebagai catatan sejarah, gelombang protes Tishreen pada 2019 lalu memang menjadi momentum besar yang berhasil memaksa Perdana Menteri saat itu, Adil Abdul-Mahdi, untuk mundur dari jabatannya. Namun, tujuh tahun berlalu, para pengunjuk rasa menilai janji-janji perbaikan tersebut masih jauh dari kenyataan.
Analisis Dampak: Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan publik terhadap kelas politik Irak masih sangat rendah. Bagi masyarakat umum, protes ini adalah upaya mempertahankan hak hidup layak di tengah minimnya lapangan kerja dan layanan dasar. Jika tuntutan ini kembali diabaikan, potensi ketidakstabilan politik dan keamanan di Irak bisa kembali memanas, mengingat kelompok muda Irak semakin vokal menuntut perubahan sistemik.