Anggota Kongres Amerika Serikat, Rashida Tlaib, melayangkan seruan keras kepada pemerintahnya sendiri. Ia mendesak otoritas AS untuk segera menangkap seorang komandan militer Israel yang diduga kuat terlibat dalam kematian tragis bocah Palestina berusia lima tahun, Hind Rajab, di Gaza.
Dalam unggahannya di media sosial, Tlaib menyoroti laporan bahwa tentara Israel bernama Sean Glass saat ini sedang berada di wilayah AS. Menurutnya, sebagai negara pihak dalam Konvensi Genosida dan Konvensi Jenewa, Amerika memiliki kewajiban hukum yang mengikat untuk menyelidiki dan menahan Glass atas tuduhan kejahatan perang serta tindakan genosida.
Desakan ini diperkuat oleh laporan dari Hind Rajab Foundation (HRF), sebuah organisasi yang melacak keberadaan tentara Israel yang dicurigai melakukan kejahatan perang. HRF mengklaim telah mengajukan permintaan darurat kepada Departemen Kehakiman AS untuk menangkap Glass. Mereka menuduh Glass memimpin kompi 'Vampire Empire' yang berada di lokasi langsung saat insiden penembakan mobil Hind terjadi.
Kasus kematian Hind Rajab pada 29 Januari 2024 lalu sempat mengguncang dunia. Rekaman panggilan teleponnya yang penuh ketakutan memohon pertolongan menjadi simbol penderitaan warga sipil Palestina. Investigasi independen menemukan fakta bahwa mobil yang ditumpangi Hind ditembaki habis-habisan hingga 335 lubang peluru, namun tidak ada bukti adanya baku tembak dengan pejuang Palestina seperti klaim awal otoritas Israel.
Analisis Dampak: Langkah Tlaib ini menjadi ujian bagi integritas hukum internasional di mata publik global. Jika AS mengabaikan permintaan ini, citra AS sebagai penegak hukum internasional akan semakin dipertanyakan, terutama di mata negara-negara Global South. Bagi masyarakat umum, kasus ini menjadi pengingat kelam bahwa impunitas (kekebalan hukum) bagi pelaku kejahatan perang masih menjadi tantangan besar, dan tekanan publik internasional menjadi satu-satunya jalan untuk memaksa transparansi.