Jenewa – Pakar hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) angkat bicara soal nasib pasangan suami istri asal Inggris, Lindsay dan Craig Foreman, yang dijatuhi hukuman 10 tahun penjara di Iran. Mereka dituduh melakukan spionase, namun PBB menilai proses hukum terhadap keduanya cacat berat.
Dalam pernyataan resminya, Pelapor Khusus PBB untuk penyiksaan, Dr. Alice Edwards, dan Pelapor Khusus untuk situasi HAM di Iran, Mai Sato, menegaskan bahwa pasangan tersebut seharusnya tidak berada di balik jeruji besi. Keduanya kini mogok makan di Penjara Evin, Tehran, setelah kontak telepon dengan keluarga mereka diputus sejak bulan lalu.
“Setelah 30 hari tanpa makanan, ini sudah menjadi darurat medis,” ujar Edwards dan Sato dalam pernyataan bersama, dikutip BBC, Selasa (4/3).
Lindsay dan Craig Foreman, warga East Sussex, Inggris, ditahan pada Januari 2025 saat sedang dalam perjalanan keliling dunia menggunakan sepeda motor. Mereka melewati Iran dan dituduh sebagai mata-mata. Keduanya dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
PBB menduga pasangan ini ditahan untuk kepentingan tekanan politik. “Mereka tampaknya ditahan secara tidak sah, diadili dengan dasar yang sangat meragukan, dan dijatuhi hukuman setelah proses persidangan yang gagal memenuhi jaminan pengadilan yang adil,” tegas para pakar PBB.
Pihak keluarga mengaku frustrasi. Putra Lindsay, Joe Bennett, mengatakan orang tuanya bahkan tidak diizinkan menghadiri sidang banding mereka sendiri. Kini kasusnya telah dilimpahkan ke Mahkamah Agung Iran, namun keluarga tidak memahami proses hukum atau timeline yang akan terjadi.
Pemerintah Inggris melalui Kantor Luar Negeri menyatakan akan terus berupaya melalui jalur diplomatik untuk memulangkan mereka. Namun, kunjungan konsuler terakhir baru dilakukan pada Desember lalu.
Analisis: Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa wisatawan atau pelancong global sangat rentan menjadi alat tawar-menawar politik, terutama di negara dengan sistem hukum yang tidak transparan seperti Iran. Peringatan dari PBB ini menambah tekanan diplomatik pada Iran di tengah negosiasi nuklir yang sedang berlangsung. Publik internasional perlu menyadari bahwa tuduhan spionase kerap digunakan sebagai dalih untuk menekan negara lain, dan nasib warga sipil biasa sering kali menjadi taruhannya.