Warga Rusia, khususnya di kota-kota besar seperti Moskow dan St. Petersburg, kini merasakan sulitnya akses internet, terutama data seluler. Pemadaman internet yang meluas ini disinyalir sebagai bagian dari langkah Kremlin untuk menguasai ruang siber dan mungkin, membangun 'internet mandiri' ala Tiongkok.
Awalnya, pemadaman berkala terjadi di wilayah perbatasan yang rawan konflik, tapi belakangan, masalah ini merambah ke jantung ibu kota. Pemerintah Rusia mengklaim langkah ini demi 'keamanan' menyusul serangan drone Ukraina yang semakin intens. Namun, dugaan ini diragukan banyak pihak.
Para pengamat dan pakar hak digital, seperti Anastasiya Zhyrmont dari Access Now, melihat pemadaman ini sebagai instrumen tumpul yang tidak efektif melawan ancaman drone. Sebaliknya, mereka menduga ini adalah uji coba pemerintah terhadap sistem 'whitelist', di mana hanya situs atau layanan yang disetujui saja yang bisa diakses. Jika ini benar, artinya sebagian besar internet global akan diblokir, menciptakan 'dinding digital' baru di Rusia.
Dampaknya bagi masyarakat sangat terasa. Komunikasi sehari-hari terganggu, seperti kata Diana, seorang guru dari St. Petersburg. "Praktis tidak ada internet seluler sekarang. Artinya, Anda tidak bisa pakai peta, aplikasi, atau apa pun. Di Moskow, bahkan menelepon dari pusat kota pun tidak bisa. Ponsel jadi seperti batu bata," keluhnya. Pembayaran pun kini kembali ke era tunai.
Sektor ekonomi juga terpukul. Surat kabar Kommersant memperkirakan, ekonomi Moskow rugi sekitar 3-5 miliar rubel (sekitar Rp 600 miliar hingga Rp 1 triliun) hanya dalam lima hari pemadaman. Ironisnya, ketidakpuasan ini bahkan muncul dari para pendukung Kremlin. Gubernur Belgorod, Vyacheslav Gladkov, yang wilayahnya kerap jadi sasaran, terang-terangan mengkritik pemadaman internet ini.
Di tengah kondisi ini, pemerintah juga mulai melancarkan propaganda. Sebuah acara TV anak-anak bahkan menampilkan lagu yang menyanyikan tentang 'tidak mau internet' dan mengajak anak-anak untuk lebih banyak bermain di luar. Ini bisa jadi isyarat dorongan bagi masyarakat untuk kembali ke kehidupan luring, menguatkan narasi 'cyberspace alternatif' yang dikontrol penuh oleh negara.
Langkah ini menunjukkan upaya serius Kremlin untuk mengencangkan cengkeraman informasi di tengah perang. Pemadaman internet bukan hanya soal teknis, tapi juga tentang kontrol narasi dan pembatasan akses warga ke dunia luar.