Kisah pilu keluarga di Jalur Gaza seolah tak ada habisnya. Setelah berbulan-bulan dihantui kecemasan atas nasib orang terkasih, kini harapan tipis muncul sekaligus menambah derita. Israel secara bertahap mengembalikan ratusan jenazah dan bagian tubuh ke Gaza, memicu pencarian massal yang memilukan di tengah reruntuhan perang.
Ratusan keluarga Palestina di Gaza kini berpacu dengan waktu dan trauma. Mereka bergerak dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, seperti yang dialami Hanaa al-Mabhuh, 56 tahun. Dengan langkah gontai dan air mata tak terbendung, Hanaa tak kenal lelah mencari putranya, Omar (18), yang hilang sejak Juni tahun lalu. Omar lenyap bersama sepupunya saat mereka meninjau puing-puing rumah di kamp pengungsi Jabaliya, Gaza utara.
Dalam proses yang menyayat hati ini, Hanaa dan ribuan keluarga lainnya harus memeriksa foto-foto jenazah yang sudah membusuk serta sisa-sisa tubuh manusia. Mereka berada di persimpangan antara harapan menemukan kepastian dan ketakutan bahwa orang yang mereka cintai telah meninggal dunia.
Informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, pada 4 Februari lalu, 54 jenazah dan 66 kotak berisi sisa-sisa tubuh diserahkan oleh Israel melalui Palang Merah Internasional (ICRC). Jenazah-jenazah ini tiba di Rumah Sakit al-Shifa, di mana tim medis berusaha keras melakukan pemeriksaan awal dan identifikasi.
Namun, proses identifikasi ini jauh dari mudah. Organisasi hak asasi manusia menyoroti minimnya dokumentasi detail dan informasi mengenai penyebab kematian dari pihak Israel. Keterbatasan kapasitas tes DNA di Gaza semakin mempersulit upaya pihak berwenang untuk mengklasifikasikan dan mengidentifikasi jenazah. Situasi ini bukan hanya menambah beban logistik, tetapi juga trauma mendalam bagi keluarga yang putus asa mencari kepastian. Ketiadaan informasi yang jelas membuat mereka terombang-ambing antara status tawanan, korban tewas yang jenazahnya ditahan, atau bahkan nasib yang lebih buruk. Pencarian ini menjadi simbol penderitaan berkepanjangan warga Gaza di tengah konflik yang tak berkesudahan, di mana pencarian 'closure' atau kepastian menjadi kemewahan yang sulit diraih.