Tiga tahun berlalu sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, namun luka mendalam masih membekas bagi warga Kfar Aza, Israel. Pada Rabu pagi, komunitas ini kembali menggelar upacara peringatan untuk mengenang 64 nyawa yang melayang dan 19 orang yang diculik dari kibbutz mereka.
Serangan tersebut menjadi yang paling mematikan dalam sejarah Israel, dengan total korban mencapai 1.200 jiwa di seluruh Israel selatan dan 251 orang disandera ke Gaza. Hingga kini, warga menuntut kejelasan atas kegagalan keamanan terbesar negara itu.
Inbar Goldstein, yang kehilangan saudara dan keponakannya dalam tragedi tersebut, menyuarakan kemarahan publik. "Saya butuh negara ini untuk bertanggung jawab," tegasnya. Ia menyoroti absennya penyelidikan independen untuk mengungkap akar masalah, yang menurutnya bukan hanya dimulai pada hari kejadian.
Kritik tajam juga diarahkan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Meski laporan intelijen dari dalam dan luar negeri disebut-sebut telah memperingatkan potensi serangan sebelumnya, Netanyahu membantah bertanggung jawab atas kelalaian tersebut. Ia justru kembali mencalonkan diri dengan janji kampanye yang sama: menjadi pemimpin yang lebih kuat dan keras dalam melindungi Israel.
Keluarga korban, termasuk Elad Levy, menuntut transparansi. "Kebenaran harus diungkap. Jika tidak, ini akan terjadi lagi dan lagi," ujarnya, menyoroti peringatan dari tentara pengawas perbatasan yang diabaikan sebelum serangan terjadi.