BEIRUT - Gencatan senjata yang baru saja disepakati antara Israel dan Lebanon kembali terusik. Serangan udara Israel menghantam desa al-Bayyad di distrik Tyre, Lebanon selatan, melukai satu orang. Insiden ini terjadi di dekat pusat relawan yang berafiliasi dengan Asosiasi Ambulans al-Risala, menurut laporan Badan Berita Nasional Lebanon (NNA). Korban langsung dilarikan ke rumah sakit.
Bukan hanya al-Bayyad, drone Israel juga menyasar kota Jebchit di distrik Nabatieh. Pesawat tempur menyerang daerah Arid Dbeibin di distrik Marjayoun, sementara artileri menghantam pinggiran Buyout al-Sayyad. Kota Qalaouiyah pun tak luput dari gempuran. Drone Israel terus terbang rendah di atas kota Baysariyeh, menebar ketakutan di kalangan warga.
Serangan ini terjadi di tengah laporan media Iran yang menyebut adanya rancangan kesepakatan damai antara Teheran dan Amerika Serikat. Draft tersebut dikabarkan akan mengakhiri perang di Lebanon. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, dalam sebuah acara peringatan di Beirut, menegaskan bahwa kesepakatan apa pun antara AS dan Iran otomatis akan mencakup Lebanon, terlepas dari sikap pemerintah Lebanon.
Fadlallah melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah Lebanon yang dinilainya terlalu banyak memberi konsesi dalam negosiasi langsung dengan Israel. Ia menegaskan Hizbullah tidak punya pilihan selain terus melakukan perlawanan. Sikap ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sudah ada.
Analisis Dampak: Situasi ini sangat memprihatinkan. Jika serangan Israel terus berlanjut, gencatan senjata bisa runtuh total. Warga sipil kembali menjadi korban, dan krisis kemanusiaan di Lebanon selatan akan semakin parah. Jurnalis Al Jazeera, Zeina Khodr, melaporkan dari Beirut bahwa belum jelas apakah Lebanon benar-benar termasuk dalam kesepakatan potensial antara AS dan Iran. Pemerintah Lebanon bersikeras bahwa mereka bukan bagian dari negosiasi tersebut. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat korban jiwa telah mencapai 3.711 orang dan 11.483 luka-luka sejak konflik meningkat pada 2 Maret lalu, termasuk 247 anak-anak dan 132 tenaga kesehatan. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar rakyat Lebanon akibat konflik berkepanjangan ini.