ULTIMATUM DAMASKUS: SURIAH BERSATU, ATAU RUSUH KEMBALI? - Berita Dunia
← Kembali

ULTIMATUM DAMASKUS: SURIAH BERSATU, ATAU RUSUH KEMBALI?

Foto Berita

Warga Damaskus sempat bersorak gembira. Langit ibu kota Suriah ini terang benderang oleh kembang api, klakson mobil bersahutan, dan orang-orang menari di Alun-alun Umayyad pada 18 Januari malam. Kegembiraan itu muncul setelah diumumkannya gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratis Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi. Harapan besar tersemat: konflik di Suriah utara yang membara beberapa minggu terakhir akan segera berakhir, membuka jalan bagi persatuan nasional yang lama dinantikan setelah bertahun-tahun perpecahan.

"Ini perasaan yang indah, dan saya yakin semua warga Suriah merasakannya… kami berharap seluruh Suriah bersatu," ujar Saria Shammiri, seorang warga Damaskus, mengungkapkan asa.

Namun, euforia itu hanya sekejap. Pagi berikutnya, pertempuran kembali pecah. Serangan cepat dari pemerintah memaksa pemimpin SDF, Mazloum Abdi, menerima syarat yang jauh lebih berat. SDF kini harus mundur dari Raqqa dan Deir Az Zor ke arah timur menuju Hasakah. Sebuah gencatan senjata baru diumumkan, disertai ultimatum empat hari agar SDF sepenuhnya terintegrasi ke dalam struktur negara.

Waktu terus berjalan bagi ultimatum tersebut. Di Damaskus dan wilayah lain di luar kendali SDF, kekecewaan terhadap pasukan pimpinan Kurdi ini semakin mengeras setelah 15 tahun perpecahan. Banyak yang kini memandang SDF bukan lagi sebagai pahlawan yang memerangi ISIS, melainkan sebagai entitas yang membentuk pemerintahan paralel, didukung kekuatan asing seperti Amerika Serikat, dan menjaga sebagian besar wilayah vital di luar jangkauan pemerintah pusat. Obrolan di kafe, taksi, hingga kantor pemerintahan pun makin blak-blakan. SDF dituduh menunda penyatuan kembali, memonopoli sumber daya minyak dan pertanian di timur laut, serta berlindung di balik dukungan AS, sementara wilayah Suriah lainnya menghadapi sanksi, keruntuhan ekonomi, dan perang.

Pertempuran yang kembali pecah ini memperkuat keyakinan banyak warga bahwa konflik hanya bisa berakhir melalui kekuatan atau penyerahan diri. Namun, di tengah keputusasaan, masih banyak yang mendambakan resolusi damai. "Dialog adalah fondasi perdamaian," kata Sheikhmos Ramzi, seorang tukang daging. "Solusi ada di meja perundingan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lagi."

Ada pula kecemasan yang membayangi. Prospek menyatukan kembali wilayah memang populer, namun tidak semua orang di Damaskus buta akan risikonya. Konfrontasi berkepanjangan dapat memicu keterlibatan aktor regional, mengganggu area perbatasan yang rapuh, atau menyulut kembali ketegangan komunal di timur laut, tempat komunitas suku Arab, Kurdi, dan lainnya hidup berdampingan dengan rapuh setelah bertahun-tahun aliansi bergeser. Sebagian warga bahkan secara pribadi mengungkapkan kekhawatiran tentang arti sebenarnya dari integrasi di lapangan. Akankah para pejuang SDF diserap ke dalam pasukan nasional, dipinggirkan, atau bahkan dituntut?

Situasi ini tak hanya mempertaruhkan masa depan sebuah kelompok, tetapi juga nasib seluruh bangsa Suriah yang telah lelah diterpa konflik bertahun-tahun. Perebutan kontrol atas sumber daya vital seperti ladang minyak dan lahan pertanian di timur laut menjadi kunci dalam upaya Damaskus mengembalikan kedaulatan penuh dan membangun kembali ekonomi yang hancur. Kegagalan mencapai integrasi yang adil dan langgeng berisiko memperpanjang penderitaan rakyat, mengundang intervensi asing lebih lanjut, serta menggagalkan setiap upaya stabilisasi di Suriah yang sudah porak-poranda.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook