JAKARTA - Industri penerbangan Eropa kembali diguncang krisis keamanan. Dalam kurun empat hari terakhir, sedikitnya 32 ancaman bom dilaporkan menghantui belasan maskapai penerbangan. Meski seluruh ancaman dipastikan sebagai hoaks alias bom palsu, otoritas bandara dan maskapai tidak bisa menganggapnya enteng.
Insiden ini memicu berbagai tindakan darurat. Mulai dari pesawat tempur militer yang dikerahkan untuk mengawal pesawat komersial, inspeksi mendadak di udara oleh kru kabin, hingga pengalihan rute penerbangan ke bandara lain—bahkan hingga lintas negara. Sebuah penerbangan Aer Lingus terpaksa mendarat darurat di pangkalan udara militer yang berjarak 1.000 kilometer dari tujuan aslinya lantaran kehabisan bahan bakar.
Menurut pakar penerbangan Marco Chan, maskapai sebenarnya memiliki sistem triase atau pemilahan tingkat risiko. Namun, protokol standar tetap diberlakukan ketat hingga dipastikan benar-benar aman. "Penumpang mungkin tidak menyadari ada masalah hingga diminta turun dari pesawat. Ini memang mengganggu, tapi itu harga kecil yang harus dibayar demi keselamatan," ujarnya seperti dikutip dari laporan internasional.
Dampak finansial tentu membayangi maskapai yang terdampak. Namun, pakar keamanan penerbangan Paul Mason menilai hal ini masih dalam koridor normal operasional. Ia menyebut, pengalihan pesawat karena alasan teknis, medis, atau cuaca justru jauh lebih sering terjadi setiap hari. Meski begitu, masyarakat diminta waspada karena pola ancaman kali ini terkesan acak dan terkoordinasi, memunculkan dugaan kuat adanya indikasi perang hibrida (hybrid warfare) yang melibatkan metode non-konvensional.