Persaingan menuju pemilu paruh waktu (midterm) Amerika Serikat semakin memanas dengan dinamika politik yang tidak biasa. Berdasarkan data RealClearPolling terbaru, Partai Demokrat saat ini memimpin dengan perolehan 51,4 persen suara, unggul jauh 8,2 poin dari Partai Republik yang berada di angka 43,2 persen. Keunggulan ini tidak lepas dari menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Donald Trump, yang approval rating-nya berada di angka 37 persen menurut survei Marquette Law School.
Faktor ekonomi menjadi momok utama bagi masyarakat. Survei menunjukkan hanya 16 persen responden merasa kondisi finansial mereka lebih baik dibanding tahun lalu, sementara 42 persen mengaku lebih buruk. Keluhan mengenai mahalnya harga kebutuhan pokok seperti bahan makanan menjadi isu sensitif yang menyasar kantong masyarakat kelas menengah ke bawah.
Menariknya, di tengah gencarnya kampanye, Donald Trump mendadak membatalkan dua agenda rapat umum (rally) di Kansas dan Iowa. Sebagai gantinya, ia memilih melakukan kampanye melalui telepon di hampir 20 negara bagian. Langkah ini diambil di tengah sorotan tajam terhadap strategi partainya yang dinilai sedang berada di posisi bertahan.
Selain itu, pemilu kali ini juga diwarnai drama hukum di Alaska. Terjadi perselisihan terkait dua kandidat yang memiliki nama sama, Dan Sullivan (petahana dari Partai Republik vs kandidat independen). Trump menuduh ini sebagai skema penipuan pemilu untuk memecah suara, sementara Departemen Kehakiman telah mengambil langkah hukum terkait sengketa ini. Situasi ini berpotensi menunda hasil akhir pemilihan Senat di wilayah tersebut.