Gubernur Okinawa, Genta Koja, menyampaikan kemarahan rakyatnya secara langsung kepada Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Tokyo pada Rabu (19/2). Kemarahan ini dipicu oleh penangkapan seorang anggota Marinir Amerika Serikat, Devin Jacob Ballard (20), yang diduga mencekik dan merampok seorang wanita lokal bernama Anna Yagi (39) di sebuah hotel.
Dalam pertemuan tersebut, Koja menegaskan bahwa berbagai langkah disipliner dan pendidikan hak asasi manusia yang selama ini diterapkan militer AS dinilai tidak berhasil. Ia mendesak pemerintah pusat Jepang untuk mengambil tindakan lebih tegas guna memastikan disiplin yang efektif di kalangan personel militer AS yang bertugas di pulau selatan tersebut.
Menanggapi hal ini, militer AS di Okinawa mengumumkan penghentian sementara semua operasi militer selama 48 jam hingga Jumat. Selain itu, mereka memberlakukan pembatasan ketat bagi personel untuk keluar dari pangkalan serta larangan mengonsumsi alkohol. Letnan Jenderal Benjamin T. Watson, pejabat tertinggi militer AS di Okinawa, juga mengumumkan periode refleksi selama 30 hari yang mencakup jam malam wajib bagi seluruh personel.
PM Takaichi menyatakan penyesalannya atas kejahatan keji ini dan berbagi kemarahan yang dirasakan warga Okinawa. Ia berharap langkah-langkah disipliner baru dari militer AS dapat dilanjutkan dengan tindakan nyata dari pemerintah AS, serta menekankan pentingnya diskusi antara Jepang dan AS untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif.
Insiden ini menambah daftar panjang keluhan warga Okinawa terhadap keberadaan pangkalan militer AS, yang sering dikaitkan dengan kebisingan, polusi, kecelakaan pesawat, dan perilaku kriminal personel. Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, termasuk hukuman penjara bagi seorang Marinir AS karena mencoba memperkosa seorang wanita pada tahun lalu, serta hukuman seumur hidup bagi mantan pekerja pangkalan militer pada tahun 2017.