Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja ditandatangani pekan ini langsung berada di ujung tanduk. Pasalnya, Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran di Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya 18 orang. Aksi ini terjadi hanya beberapa jam sebelum perundingan formal antara AS dan Iran dijadwalkan dimulai di Swiss.
Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan membatalkan penerbangannya ke Swiss pada Kamis malam secara mendadak setelah serangan Israel tersebut. Tak hanya itu, Iran pun menyatakan belum siap untuk duduk satu meja karena mereka ingin melihat bukti nyata bahwa gencatan senjata—yang juga mencakup Lebanon—benar-benar dijalankan.
Situasi ini kian runyam karena Israel saat ini menduduki seperlima wilayah Lebanon dan terus melancarkan serangan nyaris setiap hari sejak awal Maret. Lebih dari 3.000 orang tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi. Ironisnya, perjanjian AS-Iran justru mewajibkan kedua pihak untuk menjaga 'integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon'. Namun, pejabat Israel malah menyatakan pasukan mereka tidak akan mundur, bahkan ada menteri yang berkata 'seluruh Lebanon harus dibakar'.
Analis menilai agresi militer Israel ini sengaja dilakukan untuk menggagalkan setiap peluang perdamaian di Timur Tengah. Dengan belum adanya tanggal pasti untuk perundingan ulang, sementara waktu 60 hari yang disepakati sudah mulai berjalan, masa depan kesepakatan ini benar-benar tidak menentu. Pertanyaan besarnya: mampukah Presiden Trump mengendalikan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu?