Perjalanan puluhan ribu warga Kongo untuk kembali ke tanah air mereka, Republik Demokratik Kongo (DRC), akhirnya mendapat titik terang. Setelah hampir tiga bulan terjebak di Burundi akibat penutupan perbatasan pasca-perebutan kota Uvira oleh kelompok milisi M23, gerbang perbatasan kini kembali dibuka, membawa harapan sekaligus kekhawatiran baru bagi para pengungsi.
Sejak awal Desember 2025, kota Uvira di Provinsi Kivu Selatan, DRC bagian timur, menjadi saksi bisu eksodus massal. Lebih dari 90.000 penduduk berhamburan menyelamatkan diri ke Burundi setelah milisi M23 menyerbu dan mengambil alih kota strategis tersebut. Joseph Bahisi, seorang ayah empat anak berusia 40 tahun, adalah salah satu dari puluhan ribu jiwa yang terpaksa meninggalkan rumah dan harta bendanya, hanya membawa seadanya untuk melintasi perbatasan Kavimvira-Gatumba demi menghindari "bayang-bayang kematian" yang dibawa oleh konflik.
M23, yang diduga kuat didukung oleh Rwanda, memang telah menjadi momok menakutkan di timur DRC. Kelompok ini bukan hanya menguasai Uvira, namun juga sebelumnya telah merebut Goma, ibu kota Kivu Utara, dan Bukavu, ibu kota Kivu Selatan pada Januari 2025. Pergerakan mereka di sepanjang Danau Tanganyika, menghadapi Pasukan Bersenjata Kongo (FARDC) dan milisi Wazalendo, memicu kekhawatiran akan semakin meluasnya krisis kemanusiaan.
Setelah Uvira jatuh sepenuhnya pada 10 Desember 2025, otoritas Burundi menutup perbatasan Kavimvira, beralasan keamanan. Penutupan ini membuat puluhan ribu pengungsi, termasuk keluarga Bahisi yang kini tinggal di kamp pengungsian Rumonge, terjebak dalam ketidakpastian. Mereka tak tahu menahu nasib rumah dan harta benda yang ditinggalkan.
Meski M23 sempat menarik pasukannya dari Uvira seminggu kemudian setelah ada tekanan dari Amerika Serikat dan mediator konflik lainnya, perbatasan tetap tertutup rapat. Situasi ini menambah derita para pengungsi yang kehilangan akses ke rumah dan sumber penghidupan mereka.
Namun, Senin lalu, setelah penantian panjang hampir tiga bulan, perbatasan Kavimvira-Gatumba resmi dibuka kembali. Ribuan pengungsi langsung berbondong-bondong melintas, menatap masa depan yang masih buram. Bahisi, seperti banyak lainnya, hanya bisa berharap. "Saya harap saat tiba di rumah, kendaraan saya masih ada. Meskipun saya mendengar beberapa kendaraan sudah diambil M23," ujarnya, mencerminkan kekhawatiran mendalam yang dirasakan banyak pengungsi.
Konflik M23 dengan pemerintah Kongo sendiri bukanlah hal baru. Ini adalah babak lanjutan dari perseteruan yang dimulai sejak 2012, mereda pada 2013, dan kembali berkobar pada 2021. Dengan dugaan kuat dukungan dari negara tetangga, konflik ini terus memicu gelombang pengungsian dan krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius dari dunia internasional. Pembukaan perbatasan ini mungkin sebuah awal, namun perjalanan pemulihan bagi Uvira dan para pengungsinya masih panjang dan penuh tantangan.