Raksasa pakaian olahraga, Nike, kini menjadi sorotan setelah Komisi Kesempatan Kerja yang Setara AS (EEOC) melancarkan penyelidikan serius. Perusahaan ini diduga melakukan diskriminasi rasial terhadap karyawan kulit putih, terutama melalui kebijakan keberagaman dan inklusi (DEI) yang mereka terapkan.
EEOC mengungkapkan telah mengajukan mosi ke pengadilan untuk memaksa Nike menyerahkan data terkait dugaan pola diskriminasi dalam proses rekrutmen, promosi, demosi, hingga pemutusan hubungan kerja. Investigasi ini juga menyasar program magang, mentoring, serta pengembangan karir di Nike. Langkah tegas EEOC diambil setelah Nike tak merespons panggilan untuk memberikan informasi penting, termasuk kriteria penentuan PHK dan penetapan gaji eksekutif.
Kasus ini semakin panas mengingat Ketua EEOC, Andrea Lucas, yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, dikenal vokal mengkritik inisiatif keberagaman rasial. Menurutnya, hukum anti-diskriminasi di AS bersifat "colour-blind" dan melindungi semua ras, tanpa memandang warna kulit. Ini sejalan dengan fokus baru penegakan Title VII dalam Civil Rights Act 1964 yang melarang diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, atau jenis kelamin.
Penyelidikan terhadap Nike ini bukan sekadar kasus biasa. Ini dipandang sebagai upaya terbaru pemerintahan Trump (saat itu) untuk memangkas kebijakan DEI di tempat kerja, yang sebelumnya banyak didukung oleh perusahaan raksasa seperti Nike, terutama setelah gerakan Black Lives Matter. Data menunjukkan, antara 2020-2021, proporsi karyawan non-kulit putih di Nike memang meningkat signifikan.
Dampak dari penyelidikan ini bisa sangat luas. Bagi Nike, ini bisa berarti citra perusahaan yang tercoreng, potensi denda besar, dan bahkan tuntutan hukum. Lebih jauh, kasus ini memicu perdebatan sengit tentang implementasi kebijakan DEI di dunia korporasi AS, serta bagaimana keseimbangan antara keberagaman dan prinsip non-diskriminasi universal harus ditegakkan. Ini juga menyoroti bagaimana arah politik memengaruhi regulasi bisnis dan isu-isu sosial di Amerika Serikat.