Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi pusat perhatian menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang. Pria yang telah lama mendominasi panggung politik Israel ini menghadapi tantangan dari berbagai rival yang bersatu hanya karena satu alasan: menentang kepemimpinannya.
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB bulan lalu, Netanyahu menunjukkan sikap yang kontroversial. Saat banyak delegasi meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes, ia justru menantang mereka dengan mengatakan, "Jika ada pengecut moral lain yang belum meninggalkan ruangan, silakan lakukan sekarang." Sikap ini disambut baik oleh pendukungnya di Israel, yang melihatnya sebagai sosok yang berani membela negara di kancah internasional.
Netanyahu, yang lahir di Tel Aviv pada 1949, telah menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari satu dekade dalam berbagai periode. Ia dikenal sebagai politisi yang sangat mahir dalam membangun koalisi dan mengarahkan opini publik sesuai keinginannya. Namun, ia juga menghadapi tuduhan sengaja menciptakan perpecahan untuk kepentingan politik dan pribadinya.
Yang menjadi sorotan penting: Netanyahu saat ini sedang dicari oleh Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang di Gaza. Meski demikian, ia tetap mencalonkan diri untuk masa jabatan keenam, memimpin pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Dampak bagi masyarakat Israel sangat signifikan. Pemilu ini bukan sekadar pertarungan politik biasa, melainkan referendum tentang arah masa depan Israel. Masyarakat terbelah antara yang melihat Netanyahu sebagai pemimpin yang mampu membuat mereka bangga menjadi Yahudi, dan yang menganggapnya sebagai sumber perpecahan dan ancaman bagi demokrasi.
Analis politik menilai Netanyahu adalah "perwujudan sempurna dari polarisasi politik Israel." Ia selalu berada dalam mode kampanye, sangat baik dalam membangun koalisi yang mencerminkan opini publik sekaligus mengarahkannya sesuai keinginannya.
Yang perlu dipahami: apa pun hasil pemilu nanti, warisan Netanyahu yang paling bertahan lama mungkin bukan kebijakan-kebijakannya, melainkan oposisi sayap kanan yang ia ciptakan sendiri. Israel saat ini menghadapi pilihan sulit antara melanjutkan kepemimpinan yang kontroversial atau mengambil arah baru yang belum jelas.