Situasi perang saudara di Myanmar dilaporkan semakin memanas dan brutal. Ini menyusul kabar bahwa militer Myanmar mengadopsi taktik dan peralatan perang dari Rusia, sekutu utamanya, yang banyak terinspirasi dari konflik di Ukraina. Bantuan militer Rusia, mulai dari pesawat tempur, helikopter, drone, hingga taktik intelijen dan strategi medan perang, disebut telah memberi keunggulan signifikan bagi junta militer Myanmar dalam menghadapi kelompok pemberontak.
Ian Storey, peneliti senior dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, menegaskan bahwa Rusia telah menjadi mitra pertahanan terpenting bagi rezim Myanmar. Senjata-senjata Rusia, kata Storey, digunakan dengan dampak yang 'sangat merusak' tidak hanya terhadap target pemberontak, tetapi juga situs sipil seperti sekolah dan rumah sakit. 'Jumlah korban tewas sangat mengerikan,' tambahnya.
Salah satu taktik paling mengerikan yang diadopsi adalah 'serangan daging' atau 'meat assaults', strategi gelombang infantri yang dilemparkan ke garis pertahanan musuh tanpa mempedulikan jumlah korban. Taktik ini pertama kali dikenal luas dalam perang Rusia di Ukraina dan kini diterapkan di Myanmar. Untuk mendukung taktik brutal ini, junta militer Myanmar telah memberlakukan wajib militer nasional sejak 2024, yang dilaporkan telah menambah hampir 100.000 tentara, menyediakan 'umpan meriam' manusia yang diperlukan.
Kudeta militer di Myanmar pada 2021 dan invasi Rusia ke Ukraina setahun setelahnya telah mempererat hubungan kedua negara yang sama-sama terkena sanksi internasional ini. Rusia menjadi salah satu negara pertama yang menyambut Panglima Militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing. Sebaliknya, Myanmar adalah satu-satunya negara Asia Tenggara yang sepenuhnya mendukung invasi Rusia ke Ukraina, bahkan dilaporkan membantu pasokan militer seperti peluru mortir dan sistem penargetan tank.
Hubungan bilateral ini tak hanya seputar militer. Kedua belah pihak juga menandatangani kesepakatan investasi, mengusulkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia, dan melanjutkan penerbangan langsung setelah jeda 30 tahun. Namun, pasokan senjata dan kerja sama militer tetap menjadi inti dari kemesraan kedua negara. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana rezim-rezim yang terisolasi secara internasional dapat membentuk aliansi strategis yang dampaknya sangat serius, terutama bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat sipil di zona konflik.