Jakarta, Media Online – Dokumen internal yang bocor dan diperoleh BBC mengungkap fakta mengejutkan: raksasa energi asal Inggris, Shell, ternyata sudah tahu sejak 2008 bahwa pipa minyak utama mereka di Nigeria mengalami kebocoran parah dan mencemari lingkungan. Namun, mereka tetap mengoperasikannya selama bertahun-tahun.
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa seorang eksekutif senior Shell sudah memperingatkan risiko memompa jutaan barel minyak mentah melalui Pipa Nembe Creek yang membentang sepanjang 96,5 km. Pipa ini melewati wilayah Delta Niger yang kaya minyak, namun juga rawan pencurian dan kerusakan infrastruktur. Alih-alih memperbaiki, Shell justru terus mengoperasikannya hingga akhirnya menjual pipa tersebut tahun lalu.
Dampaknya? Ratusan tumpahan minyak antara 2011-2013 telah merusak ekosistem hutan bakau dan sungai di Delta Niger. Warga setempat, seperti nelayan Balafama Augustus Bruce (64), mengaku hidupnya hancur. "Sebelum 2011, tempat ini indah. Kami bisa menangkap ikan sarden, lele, hingga tiram. Sekarang semuanya hilang, atau ikannya cacat," ujarnya kepada BBC.
Masyarakat yang menggugat Shell di pengadilan Inggris menuntut ganti rugi sebesar USD 1 miliar (sekitar Rp 15 triliun). Mereka menuduh Shell lalai mengamankan pipa dari pencurian minyak ilegal yang justru memicu kebocoran. Sementara Shell berdalih bahwa polusi disebabkan oleh pencurian dan penyulingan ilegal, bukan kelalaian mereka.
Menurut data PBB, sejak 1958, setidaknya 13 juta barel minyak telah tumpah di Nigeria dalam 7.000 insiden. Kasus ini menjadi preseden penting soal tanggung jawab korporasi multinasional terhadap kerusakan lingkungan di negara berkembang. Publik kini menunggu keputusan pengadilan Inggris yang bisa mengubah cara perusahaan minyak beroperasi di Afrika.