Manchester City akan menghadapi ujian mental berat saat bertandang ke markas Liverpool, Anfield, pada laga lanjutan Premier League. Ini menjadi pertandingan pertama City setelah mereka dinyatakan bersalah atas pelanggaran serius aturan finansial (Financial Fair Play).
Sebuah komisi independen menemukan bahwa City dan pemiliknya dari Uni Emirat Arab melakukan manipulasi kesepakatan sponsor untuk menggelembungkan pendapatan dan menekan biaya hingga mencapai 900 juta poundsterling (sekitar Rp18 triliun) pada periode 2009 hingga 2018. Meski City menyatakan banding, vonis ini memicu amarah besar di kalangan pendukung Liverpool.
Suporter Liverpool, terutama kelompok Spion Kop 1906, berencana menyambut bus tim City dengan aksi protes besar-besaran. Mereka mengajak seluruh fans untuk membawa bendera, syal, dan menciptakan atmosfer yang intimidatif sejak menit pertama. Bahkan, ada seruan untuk melakukan 'Bus Greeting' di sekitar stadion, dengan label pertandingan 'LFC vs Cheats'. Polisi Merseyside pun bersiap melakukan pengamanan ekstra untuk mengantisipasi kerusuhan, mengingat sejarah serangan terhadap bus City pada 2018 silam.
Analisis Dampak: Vonis ini bukan sekadar masalah hukum, tapi telah memicu perang psikologis di lapangan. Bagi masyarakat umum, ini adalah tontonan tentang bagaimana integritas olahraga dipertaruhkan di hadapan hukum. Jika banding City ditolak, masa depan sepak bola Inggris bisa berubah drastis, dengan potensi pengurangan poin atau degradasi yang akan mengguncang peta kekuatan liga.