Di usia 21 tahun, Moez al Shreiti, seorang pemuda Tunisia, bertekad bulat menemukan sosok ibu kandung yang menyerahkannya sejak lahir. Pencarian akar identitas ini membawanya pada perjalanan emosional penuh liku, menembus dinding birokrasi dan tantangan psikologis yang menguji ketangguhan.
Moez, yang lahir dan langsung diserahkan, kini berjuang keras mengungkap asal-usulnya. Perjalanannya bukan tanpa aral. Ia harus berhadapan dengan lika-liku sistem hukum dan rumah sakit, mengais-ngais catatan resmi yang seringkali sulit diakses. Proses panjang dan berbelit ini kerap membuatnya frustrasi, menguras energi dan emosinya hingga ke titik terendah.
Namun, Moez tidak sendirian. Ia menemukan kekuatan dan ketahanan berkat dukungan musik yang menjadi pelipur lara, teman-teman dekat yang selalu menyokong, serta sebuah kelompok 'psikodrama' yang membantunya mengelola gejolak batin. Tak hanya itu, keluarga angkatnya dan para pekerja komunitas juga menjadi jangkar yang membuatnya tetap membumi di tengah badai pencarian ini.
Kisah Moez ini tak hanya sekadar perjuangan pribadi, tapi juga cerminan universal dari kebutuhan mendalam setiap individu untuk memahami asal-usulnya. Di banyak negara, pencarian akar identitas bagi mereka yang diadopsi atau diserahkan saat lahir seringkali berhadapan dengan birokrasi yang rumit dan stigma sosial. Kisah ini menegaskan pentingnya sistem dukungan yang kuat serta akses yang lebih mudah terhadap informasi pribadi, agar setiap Moez di dunia ini bisa menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidupnya tanpa harus melalui penderitaan yang berlebihan.