Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan harapannya agar perundingan yang dimediasi Amerika Serikat dengan Rusia di Abu Dhabi dapat membuka jalan menuju pertemuan tiga pihak di tingkat pemimpin, termasuk dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Hal ini disampaikannya dalam kunjungan mendadak ke Berlin, Selasa (5/11), didampingi Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Zelenskyy menegaskan bahwa pembicaraan di tingkat penasihat yang dijadwalkan pada 10-11 November mendatang merupakan bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas untuk mengakhiri perang. "Kami berharap format kerja ini dan langkah diplomatik lainnya dapat membuka jalan menuju format trilateral di tingkat pemimpin," ujarnya kepada wartawan.
Sementara itu, Kanselir Merz menyuarakan skeptisismenya terhadap keseriusan Rusia. "Penting bagi Rusia untuk akhirnya terlibat secara serius dalam negosiasi gencatan senjata dan kesepakatan damai. Saya belum melihat hal itu terjadi sejauh ini," tegas Merz.
Utusan khusus AS Steve Witkoff mengumumkan putaran baru pembicaraan antara Rusia, Ukraina, dan AS pada Senin lalu. Fokus diskusi mencakup pengaturan keamanan pascaperang, de-eskalasi, upaya kemanusiaan, dan langkah menuju perdamaian. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi kehadiran delegasi Rusia yang dipimpin mantan Menteri Kebudayaan Vladimir Medinsky.
Pertemuan ini menandai perkembangan signifikan setelah sebelumnya kedua pihak terlibat dalam misi kemanusiaan bersama di kota Oleshky yang diduduki Rusia, dengan pengawasan ombudsman hak asasi manusia dari kedua negara dan dimediasi oleh Ibu Negara AS Melania Trump. Namun, absennya perwakilan Eropa dalam perundingan Abu Dhabi menjadi catatan penting. Negara-negara Eropa terus menuntut keterlibatan dalam negosiasi, sementara utusan AS dijadwalkan bertemu perwakilan Jerman, Prancis, Inggris, NATO, dan Uni Eropa di Brussels untuk membahas jaminan keamanan bagi Ukraina.
Analisis Dampak: Perundingan ini menjadi angin segar bagi masyarakat Ukraina yang telah lama mendambakan perdamaian, namun skeptisisme Jerman mencerminkan keraguan global terhadap komitmen Rusia. Bagi masyarakat internasional, absennya Eropa di meja perundingan berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan kesepakatan yang berdampak pada stabilitas keamanan kawasan. Masyarakat Indonesia perlu mencermati perkembangan ini karena konflik berkepanjangan berdampak pada harga pangan dan energi global.