Langit Timur Tengah masih jauh dari kata normal. Meskipun otoritas bandara di Dubai mulai mengizinkan beberapa penerbangan beroperasi, ratusan ribu penumpang tetap terdampar akibat kekacauan perjalanan yang dipicu konflik panas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Bandara Internasional Dubai, yang dikenal sebagai salah satu gerbang tersibuk di dunia untuk penumpang internasional, serta Bandara Dubai World Central, menyatakan telah memberi lampu hijau pada 'sejumlah kecil' penerbangan. Namun, pesan tegas dari otoritas bandara adalah: jangan buru-buru bepergian jika maskapai Anda belum menghubungi langsung dengan jadwal keberangkatan yang pasti. Senada, maskapai besar seperti Emirates dan Etihad Airways mengumumkan pembukaan kembali rute terbatas, dengan prioritas bagi penumpang yang sudah memiliki tiket sebelumnya. Bahkan, Etihad menegaskan penerbangan komersial masih ditangguhkan hingga Rabu, meski beberapa penerbangan kargo dan repatriasi mungkin tetap berjalan.
Kekacauan ini bukan isapan jempol. Data dari Flightradar24 menunjukkan sejumlah penerbangan Emirates dan Etihad sudah kembali mengudara ke beberapa tujuan seperti London, Amsterdam, Moskow, Mumbai, dan Chennai. Namun, masih ada penerbangan yang dialihkan atau bahkan putar balik, seperti yang terjadi pada rute Etihad ke Abu Dhabi yang dialihkan ke Muscat, Oman, dan penerbangan Emirates yang kembali ke Mumbai.
Sejak konflik pecah akhir pekan lalu, lebih dari 11.000 penerbangan di dalam dan keluar wilayah Timur Tengah dibatalkan, menurut firma data penerbangan Cirium. Wilayah udara di sejumlah negara seperti Irak, Yordania, Qatar, dan Bahrain, terpaksa ditutup akibat serangan AS-Israel ke Iran dan balasan dari Teheran. Kondisi ini membuat aktivitas perjalanan di Timur Tengah terhenti total.
Tony Stanton, direktur konsultan Strategic Air di Australia, kepada Al Jazeera mengungkapkan, meskipun gangguan akibat konflik Iran cenderung terkonsentrasi secara geografis, dampaknya bisa sangat parah karena memengaruhi koridor timur-barat paling vital di dunia dan menimbulkan efek domino yang cepat. Pemerintah Jerman bahkan sudah siap mengirim pesawat carteran ke Arab Saudi dan Oman untuk mengevakuasi warganya yang 'sangat rentan' dan tidak bisa pulang. Analisis Stanton juga menyoroti potensi dampak jangka panjang bagi sektor penerbangan jika konflik berlarut-larut lebih dari beberapa minggu. Rute-rute penting bisa tidak layak, biaya operasional meningkat karena asuransi dan regulator, bahkan peta rute global bisa 'diatur ulang' dengan penangguhan layanan permanen dan pergeseran lalu lintas ke rute alternatif.