Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah sejak 28 Februari lalu akhirnya berakhir. Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global. Namun, analis menilai perang ini menjadi blunder terbesar Presiden Donald Trump dalam kebijakan luar negerinya.
Konflik ini tidak hanya menewaskan ribuan warga sipil dan menghancurkan rumah-rumah, tetapi juga merusak aliansi AS dengan negara-negara Arab Teluk. Para pejabat negara Teluk kini mulai diam-diam mencari sekutu baru dan mencari cara untuk hidup berdampingan dengan Iran. China disebut-sebut mengamati dengan saksama bagaimana AS kehabisan stok senjata dan menemui batas kekuatannya.
Dampak ekonomi langsung terasa: penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan 20% minyak dan gas dunia, serta produk petrokimia seperti pupuk dan semikonduktor. Afrika sub-Sahara terancam krisis pangan karena terganggunya produksi pupuk. Kini, dengan dibukanya kembali selat, tekanan terhadap ekonomi global mereda.
Namun, perjanjian ini belum final. Ada 14 poin dalam dua halaman yang belum dipublikasi. Isu paling pelikāmasa depan program nuklir Iran dan pencabutan sanksiāditunda ke negosiasi berikutnya. Yang jelas, perang yang didasari kesalahan membaca kekuatan musuh di Teheran ini akhirnya usai, membawa kelegaan bagi jutaan jiwa yang terdampak.