MAKAM DI GAZA HANCUR, KEMANA JENAZAH KINI? - Berita Dunia
← Kembali

MAKAM DI GAZA HANCUR, KEMANA JENAZAH KINI?

Foto Berita

Tragedi kemanusiaan kembali mencuat dari Gaza. Militer Israel dilaporkan telah menggali dan menodai setidaknya 250 makam di Pemakaman al-Batsh, timur Kota Gaza, dalam upaya mencari jenazah Ran Gvili, tawanan Israel terakhir. Operasi pencarian ini, yang melibatkan alat berat dan buldoser, tak hanya merusak fisik pemakaman, tetapi juga menghancurkan nisan-nisan dan mengubah total lanskap situs peristirahatan terakhir tersebut. Dampaknya, ratusan keluarga Palestina kini dibayangi keresahan mendalam, bertanya-tanya tentang nasib jasad orang yang mereka cintai di tengah puing-puing.

Salah satu yang merasakan kepedihan ini adalah Fatima Abdullah, seorang ibu tiga anak yang suaminya, Mohammad al-Shaarawi, tewas akibat serangan drone Israel pada Desember 2024. Fatima harus menahan cemas luar biasa ketika operasi militer Israel fokus pada pemakaman yang menampung makam suaminya. "Bahkan orang mati pun tak luput," lirih Fatima, menggambarkan bagaimana jenazah berserakan, tulang belulang dan kantung-kantung berisi sisa-sisa jasad dibuang begitu saja. Ia merasa hak mereka untuk berduka dan mempertahankan martabat telah dirampas. Sebelum kejadian, Fatima sering mengunjungi makam suaminya bersama anak-anaknya, tempat yang dianggap sebagai ruang untuk terus merasakan kehadiran ayah mereka. Namun, kini, akses ke pemakaman tersebut sulit karena dikelilingi puing dan masuk dalam "garis kuning" kontrol Israel.

Penodaan makam ini bukan hanya insiden tunggal. Berbagai laporan dan organisasi hak asasi manusia mencatat bahwa militer Israel berulang kali mengebom, menggusur, dan menodai makam Palestina di Gaza selama bertahun-tahun. Tindakan semacam ini, di luar isu kemanusiaan yang mendalam, juga menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran hukum perang internasional yang melindungi situs keagamaan dan kuburan. Bagi warga Gaza, penghancuran makam ini menambah daftar panjang penderitaan, melenyapkan jejak terakhir untuk berduka dan mengenang, serta menimbulkan trauma psikologis kolektif yang sulit dipulihkan. Kapan martabat bagi yang hidup dan mati bisa kembali?


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook