Kebijakan deportasi massal yang digencarkan pemerintahan Donald Trump ternyata membawa dampak yang jauh lebih luas dan mengerikan dari yang dibayangkan publik. Ismael Labrador, seorang pengacara imigrasi kelahiran Kuba yang berbasis di Miami, mengaku terkejut dengan skala penangkapan yang terjadi. Padahal, ia sendiri adalah salah satu dari 68 persen warga Kuba-Amerika di Florida yang memilih Trump pada pemilu lalu. Kini, ia menyesali keputusannya karena bisnisnya justru kebanjiran klien yang panik mencari bantuan hukum untuk keluarga mereka yang ditahan.
Yang paling mengkhawatirkan, operasi penangkapan oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) kini menyasar tempat-tempat yang sebelumnya dianggap aman. Video amatir merekam penangkapan orang tua di depan sekolah, halte bus, hingga di dalam ruang sidang pengadilan imigrasi. Kasus paling memilukan menimpa Grace Calero dan putrinya, Giulianna Carriel, imigran asal Ekuador. Keduanya ditangkap secara paksa oleh agen ICE saat sedang dirawat di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Mereka dideportasi hanya dalam hitungan hari.
Pemerintah AS melalui juru bicara Gedung Putih bersikeras bahwa tindakan ini adalah bentuk pemenuhan janji kampanye untuk menghentikan 'invasi' dan menegakkan hukum imigrasi. Namun, bagi komunitas imigran, aturan baru ini menciptakan teror psikologis. Bahkan pengacara Labrador tidak mampu menyelamatkan sepupunya sendiri dari deportasi ke Kuba. Situasi ini menjadi ironi pahit bagi para pendukung Trump yang kini harus berhadapan dengan realitas kebijakan yang jauh lebih keras dari ekspektasi mereka.