RAHASIA CHINA: TETAP BELI MINYAK IRAN DI TENGAH KRISIS! - Berita Dunia
← Kembali

RAHASIA CHINA: TETAP BELI MINYAK IRAN DI TENGAH KRISIS!

Foto Berita

Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran memicu kekhawatiran global, terutama setelah Teheran memblokir Selat Hormuz, jalur vital 20 persen minyak dan gas dunia. Akibatnya, harga minyak Brent crude melonjak hingga 5 persen menjadi $106.16 per barel. Banyak negara sibuk mengerahkan cadangan minyak strategis untuk meredakan krisis ekonomi yang membayangi. Namun, di tengah situasi panas ini, Tiongkok justru tampak tenang. Negara Tirai Bambu itu, yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, khususnya Iran, punya strategi unik untuk tetap mengamankan pasokan energinya.

Jauh sebelum konflik memanas, Tiongkok sudah mempersiapkan diri. Sejak 2021, Presiden Xi Jinping mengamanatkan negaranya untuk mengambil alih kendali penuh atas pasokan energi. Salah satu taktik kunci mereka adalah memanfaatkan "kilang teh" atau teapot refineries – fasilitas penyulingan kecil independen yang cerdik. Kilang-kilang ini secara strategis membeli minyak mentah yang harganya jatuh akibat sanksi internasional, khususnya dari Iran. Selain itu, mereka juga menimbun cadangan dan meningkatkan impor dari negara seperti Rusia dan Venezuela (sebelum AS campur tangan di industri minyak Venezuela). Data dari Kpler menunjukkan, pada 2025, Tiongkok membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran, atau sekitar 1,4 juta barel per hari dari total 10,4 juta barel impor minyak lautnya.

Strategi ini memang memberi Tiongkok "peredam" dari gejolak krisis minyak. Namun, para ahli seperti Muyu Xu, analis senior minyak mentah di Kpler, mengingatkan bahwa Tiongkok tidak sepenuhnya kebal. Meskipun impor minyak laut mereka di bulan Maret masih relatif stabil (10,19 juta barel per hari), sebagian besar minyak itu dimuat sebelum perang pecah. Mengingat lebih dari 50 persen impor minyak Tiongkok berasal dari Timur Tengah yang kini terganggu, Tiongkok diperkirakan akan mengalami penurunan tajam dalam pasokan minyak pada bulan April mendatang. Artinya, di tengah kelihaian Tiongkok menavigasi krisis, mereka tetap harus bersiap menghadapi potensi tantangan energi di masa depan yang lebih besar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook