Manchester United tengah berada di titik terendahnya. Setelah finis di posisi ketiga musim lalu dan membangkitkan harapan besar, skuad asuhan Michael Carrick justru mencatatkan start terburuk dalam 40 tahun terakhir. Dari sembilan laga di semua kompetisi, United baru meraih dua kemenangan, dan kini terpuruk di peringkat 12 dengan koleksi enam poin—rekor terburuk sejak 1986.
Kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid di Liga Champions menjadi pukulan telak ketiga dalam lima laga tanpa kemenangan. Bek Lisandro Martinez bahkan secara terbuka mengkritik manajemen klub yang dinilai kurang memberi dukungan kepada tim. Hasil imbang melawan tim papan bawah seperti Fulham dan Tottenham (yang sempat berada di dasar klasemen) semakin memperparah situasi. Legenda klub Gary Neville menyebut penampilan babak kedua melawan Fulham sebagai "benar-benar menyedihkan".
Manajer Carrick mencoba tetap tenang. "Ini memang tidak ideal, tapi ini harus dilalui," ujarnya usai laga melawan Tottenham yang berakhir 1-1 di Old Trafford, di mana timnya dihujani cemoohan suporter. Para penggemar kini mempertanyakan arah kebijakan klub, mulai dari strategi transfer hingga taktik Carrick yang dianggap tidak mampu membangkitkan semangat juang pemain.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi jutaan penggemar United di Indonesia dan dunia, situasi ini bukan sekadar kekecewaan olahraga—ini memengaruhi ekonomi industri merchandise, pariwisata sepak bola, dan psikologis suporter yang telah lama menanti kebangkitan. Jika tren ini berlanjut, tekanan publik terhadap manajemen dan Carrick diprediksi akan semakin besar, bahkan muncul seruan pergantian pelatih.