Jakarta, CNN Indonesia — Situasi keamanan di Yaman kembali memanas secara dramatis. Militer pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim telah menewaskan sedikitnya 1.150 milisi Houthi dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Operasi besar-besaran bertajuk 'Fajar Yaman' ini disebut melibatkan hampir 2.000 serangan terarah yang menyasar posisi kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut.
Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili, merinci bahwa pihaknya tidak hanya menargetkan personel, tetapi juga menghancurkan gudang amunisi dan sekitar 180 kendaraan tempur serta logistik milik Houthi. Klaim ini muncul bersamaan dengan eskalasi serangan udara yang dilancarkan Houthi ke arah Arab Saudi, termasuk serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang sempat melumpuhkan penerbangan.
Alih-alih mereda, konflik ini berpotensi melebar ke kancah internasional. Houthi dilaporkan mengancam akan menyerang Pakistan jika negara tersebut ikut campur dalam operasi militer melawan mereka. Selain itu, kelompok ini memperingatkan maskapai penerbangan sipil untuk menghindari wilayah udara Saudi, kecuali rute menuju kota suci Mekkah dan Madinah. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik ini.
Pertempuran darat saat ini terfokus di sekitar Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran strategis dunia. Pasukan pro-Saudi tengah berupaya merebut kembali kota pelabuhan Mocha dan Dhubab. Para pengamat menilai absennya mediator regional membuat situasi ini sulit didinginkan, dan kekerasan diprediksi akan terus meningkat tajam dalam waktu dekat.