Iran tengah menghadapi ketidakpastian besar setelah serangkaian pembunuhan menargetkan sejumlah petinggi kuncinya. Insiden yang diklaim dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat sejak 28 Februari itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kepala keamanan negara, Ali Larijani, memicu pertanyaan serius tentang siapa kini yang mengendalikan negara tersebut.
Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi, memang telah diumumkan sebagai suksesor ayahnya. Namun, laporan pejabat AS yang menyebutnya terluka dan catatan analis bahwa ia belum pernah memegang jabatan eksekutif, membuat posisinya diragukan. Situasi ini meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang signifikan, terutama setelah Larijani, salah satu wajah paling menonjol pemerintah, juga tewas.
Analis politik masih kesulitan menebak siapa yang akan mengisi posisi Larijani. Sejarawan Reza H Akbari dari Institute for War and Peace Reporting menyatakan, meski mekanisme konstitusional ada, menentukan nama pengganti secara spesifik sangat sulit. Sementara itu, Barbara Slavin dari Stimson Center menyebutkan, Iran mungkin sengaja tidak mengumumkan penerus Larijani untuk menghindari target baru. Namun, sejumlah nama tetap disebut-sebut punya pengaruh besar di bidang politik dan militer, antara lain Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, mantan penasihat keamanan nasional Saeed Jalili, pakar nuklir Ali Akbar Salehi, mantan presiden Hassan Rouhani, serta Mohsen Rezaie dan sejumlah tokoh dari Garda Revolusi Islam (IRGC) lainnya.
Meski menghadapi pukulan telak, sistem Iran dinilai tangguh. Akbari menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk bertahan dari guncangan seperti ini, mengadopsi strategi “pertahanan mosaik” yang memberdayakan komandan regional dan provinsi untuk bertindak otonom. Namun, kematian sejumlah tokoh kunci ini diperkirakan akan memicu peningkatan pengaruh kelompok garis keras yang lebih muda. Potensi pergeseran kepemimpinan ke tangan tokoh yang kurang dikenal atau bahkan kurang transparan dapat meningkatkan ketidakpastian regional, terutama di tengah ketegangan nuklir dan konflik proksi di Timur Tengah. Ketidakjelasan ini bisa berdampak pada stabilitas kawasan dan kebijakan luar negeri Iran, bahkan berpotensi memengaruhi pasar minyak global.