JAKARTA, Media Online – Amerika Serikat digegerkan dengan kemunculan kembali belatung pemakan daging (New World screwworm) setelah 60 tahun dinyatakan bebas dari hama ini. Departemen Pertanian AS (USDA) mengonfirmasi temuan pertama pada seekor sapi di Texas, yang diduga terbawa dari Meksiko hingga menembus batas biologis yang selama puluhan tahun mampu menahan penyebarannya.
Belatung ini berasal dari lalat Cochliomyia hominivorax. Lalat betina bertelur di luka terbuka hewan berdarah panas—termasuk manusia. Begitu menetas, ratusan belatung langsung melahap daging hidup inangnya. Anak sapi yang baru lahir sangat rentan karena luka pusar yang belum kering.
Dalam sepekan, larva menggali jauh ke dalam daging, lalu jatuh ke tanah menjadi kepompong, dan muncul sebagai lalat dewasa dalam waktu dua pekan hingga dua bulan. Lalat dewasa bisa terbang puluhan kilometer mencari inang baru, membuat wabah menyebar cepat ke populasi satwa liar, ternak, hingga manusia.
Dampak ekonomi diprediksi sangat parah. USDA memperkirakan wabah ini bisa merugikan ekonomi Texas hingga US$1,8 miliar (sekitar Rp28 triliun) akibat kematian ternak dan lonjakan harga daging sapi. Meksiko sendiri mencatat lonjakan kasus 53 persen pada hewan dalam periode Juli-Agustus 2025. Tahun lalu, Meksiko juga melaporkan 41 kasus pada manusia, terutama di negara bagian Chiapas.
Menurut Dr. Timothy Goldsmith dari University of Minnesota, tuna wisma sangat rentan karena tidur di luar ruangan dan minim akses kebersihan serta layanan kesehatan. Namun perlu dicatat, risiko tertular dari daging sapi matang yang sudah diperiksa sangat kecil.
Analisis Dampak: Kemunculan kembali hama ini menjadi peringatan serius bagi sistem karantina global. Jika tidak segera dikendalikan, AS berpotensi menghadapi krisis pangan karena pasokan daging terganggu. Bagi Indonesia, ini jadi alarm untuk memperketat pengawasan lalu lintas hewan dan produk ternak dari negara terjangkit.