KYIV - Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran gempuran rudal balistik Rusia. Ledakan dahsyat mengguncang beberapa distrik kota setelah serangan yang berlangsung sekitar satu jam pada Kamis (1/8) dini hari waktu setempat.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi bahwa tim penyelamat tengah berjibaku memadamkan api di sejumlah lokasi. Dua area terdampak langsung adalah sebuah gudang di Distrik Sviatoshynskyi dan sebuah gedung non-hunian di Distrik Darnytskyi. Puing-puing rudal yang jatuh juga memicu kebakaran di kawasan pengembangan non-hunian Darnytsia. Komando Angkatan Udara Ukraina kemudian memastikan ancaman udara telah berakhir setelah satu jam.
Serangan brutal ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, melakukan kunjungan ke Kyiv. Dalam kunjungannya, ia mengumumkan kesepakatan baru yang disebut sebagai 'pakta drone' antara Ukraina dan Uni Eropa.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini bukan sekadar seremonial. Von der Leyen menekankan pentingnya menggabungkan 'kecerdasan Ukraina di medan perang dengan skala industri Eropa'. Artinya, UE akan menyediakan kapasitas industri raksasa dan lokasi produksi yang aman untuk mempercepat produksi drone Ukraina. Ini bisa menjadi titik balik, karena Ukraina selama ini unggul dalam inovasi drone murah namun mematikan, tetapi terkendala pasokan. Dengan dukungan pabrik di Eropa, produksi bisa melonjak drastis.
Situasi di darat semakin mengkhawatirkan. Dalam 24 jam terakhir, rentetan bombardir Rusia di wilayah lain Ukraina menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai 50 lainnya. Serangan siang hari secara spesifik menyasar pabrik-pabrik industri dan fasilitas kesehatan di kota pelabuhan Odesa serta kota Sumy di perbatasan timur laut. Lebih dari empat tahun perang berlangsung, eskalasi serangan dalam beberapa bulan terakhir terus meningkatkan jumlah korban sipil, menunjukkan bahwa Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi tekanan militernya.