Jakarta - Raksasa teknologi pertahanan asal California, Anduril Industries, mengumumkan komitmen investasi raksasa senilai $3,7 miliar atau sekitar Rp 60 triliun (kurs Rp 16.200) untuk membangun fasilitas galangan kapal baru di Maryland, Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan bagian dari strategi besar Washington untuk membenahi industri maritimnya yang tengah terpuruk.
Fasilitas yang diberi nama Arsenal-2 ini akan fokus memproduksi komponen kritis untuk kapal selam nuklir kelas Virginia milik Angkatan Laut AS. Anduril tidak main-main; mereka juga mengantongi kontrak senilai $2,9 miliar dari AL AS untuk memproduksi suku cadang kapal selam tersebut. Proyek ini bahkan akan diresmikan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, sebagai bagian dari pengumuman ekspansi galangan kapal besar-besaran di Baltimore.
Kenapa ini penting? Selama ini, galangan kapal AS kesulitan memenuhi target produksi dua kapal selam baru per tahun. Laporan Departemen Pertahanan AS menyebut produksi riil hanya mencapai 1,1 hingga 1,2 unit per tahun akibat gangguan rantai pasok dan kekurangan tenaga kerja. Kehadiran Arsenal-2 diharapkan menjadi obat mujarab untuk masalah tersebut.
Selain membangun kapal, Anduril dikenal sebagai pionir dalam pengembangan sistem otonom, termasuk drone bawah air dan kapal tanpa awak. Pendiri Anduril, Palmer Luckey, saat ini dipercaya memimpin Project Meridian bersama Elon Musk, sebuah inisiatif Pentagon yang berfokus pada perang masa depan berbasis AI dan kemampuan maritim otonom.
Dampaknya bagi masyarakat AS, proyek ini diproyeksikan menciptakan 3.100 lapangan kerja langsung dan mendukung lebih dari 11.000 pekerjaan tidak langsung di sektor terkait. Bagi dunia internasional, percepatan produksi kapal selam kelas Virginia—yang mampu membawa hingga 40 rudal Tomahawk—menandakan peningkatan signifikan dalam daya pukul militer AS, terutama di tengah ketegangan global yang mengancam jalur pelayaran minyak dunia.