IRAN HENTIKAN BIAYA LINTAS SELAT HORMUZ 60 HARI - Berita Dunia
← Kembali

IRAN HENTIKAN BIAYA LINTAS SELAT HORMUZ 60 HARI

Foto Berita

Teheran, 10 April 2025 – Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan pembebasan biaya transit bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari ke depan. Keputusan ini diambil setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memberikan restu terhadap kesepakatan yang diteken secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, Khamenei mengaku awalnya memiliki pandangan berbeda terhadap nota kesepahaman (MoU) tersebut. Namun, ia akhirnya menyetujuinya setelah Presiden Pezeshkian dan pejabat lainnya memberikan jaminan bahwa kepentingan nasional Iran dan poros perlawanan akan terlindungi. 'Jika pihak Amerika ingin serakah, mereka tidak akan kami terima,' tegas Khamenei, seraya mengingatkan agar Washington tidak mengajukan tuntutan tambahan di luar kesepakatan.

Kesepakatan ini lahir dari gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri konflik yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa masa negosiasi 60 hari telah dimulai dan pembatasan lalu lintas maritim ke pelabuhan Iran telah dicabut.

Negosiasi ke depan diprediksi akan memanas, terutama menyangkut pencabutan sanksi, invasi Israel ke Lebanon selatan, serta masa depan program nuklir Iran. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyambut baik MoU ini dan siap membantu verifikasi aktivitas nuklir kedua negara. Sementara itu, Trump melalui media sosial menuntut gencatan senjata total di semua lini, termasuk Lebanon dan Hezbollah.

Analisis Dampak: Penghentian biaya transit Selat Hormuz menjadi sinyal deeskalasi yang signifikan di kawasan Teluk. Langkah ini berpotensi menekan harga minyak global dan melancarkan rantai pasok energi dunia yang sempat terganggu. Namun, keraguan masih menyelimuti delegasi Iran yang belum memutuskan kehadiran dalam pertemuan di Swiss. Jika negosiasi gagal, bukan tidak mungkin situasi kembali memanas dan mengancam stabilitas ekonomi global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook